Fish

Loading...

Kamis, 02 Desember 2010

ACUAN STANDAR DALAM MENYUSUN KURIKULUM PAUD

ACUAN STANDAR DALAM MENYUSUN
KURIKULUM PAUD
Oleh : Hapidin

A. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan

Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan (STPP) merupakan salah satu komponen utama dalam memahami, menyusun dan mengembangkan program pembelajaran (bermain) pada satuan pendidikan anak usia dini. STPP menggambarkan criteria (ukuran) normatif (rata-rata secara umum) pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan dicapai oleh anak pada rentang usia tertentu. Proses pertumbuhan anak yang mencakup pemantauan kondisi kesehatan dan gizi dapat menggunakan ukuran baku dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Adapun proses perkembangan anak usia dini pada berbagai dimensi perkembangan dapat ditemu kenali melalui karakteristik tingkat pencapaian perkembangan pada rentang usia tertentu yang mengikuti pola-pola umum dalam perkembangan. Pola karakteristik umum perkembangan ini menjadi ukuran normative yang bersifat generic (umum) yang harus diadaptasi dengan melihat perkembangan aktual pada masing-masing anak.
STPP sebagai acuan normatif telah disusun dalam bentuk pengelompokan usia anak pada berbagai aspek perkembangan sebagai berikut :
1. Tahap usia 0 - < 2 tahun, terdiri atas kelompok usia:
a < 3 bulan
b 3 - < 6 bulan
c 6 - < 9 bulan
d 9 - < 12 bulan
e 12 - < 18 bulan
f 18 - < 24 bulan
2. Tahap usia 2 - < 4 tahun, terdiri atas kelompok usia :
a 2 - < 3 tahun
b 3 - < 4 tahun
3. Tahap usia 4 - ≤ 6 tahun, terdiri atas kelompok usia :
a 4 - < 5 tahun
b 5 - ≤ 6 tahun
Berdasarkan kelompok usia tersebut disusun standar tingkat pencapaian perkembangan sebagai berikut :
Lingkup Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan
4 - < 5 tahun 5 - ≤ 6 tahun
I.NILAI-NILAI AGAMA DAN
MORAL
1. Mengenal Tuhan melalui agama yang dianutnya.
2. Meniru gerakan beribadah.
3. Mengucapkan doa sebelum dan /atau sesudah melakukan sesuatu.
4. Mengenal perilaku baik/ sopan dan buruk.
5. Membiasakan diri berperilaku baik.
6. Mengucapkan salam dan membalas salam

1. Mengenal agam yang dianut.
2. Membiasakan diri beribadah.
3. Memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb).
4. Membedakan perilaku baik dan buruk.
5. Mengenal ritual dan hari besar agama.
6. Menghormati agama orang lain.
II. Fisik
A. Motorik kasar 1. Menirukan gerakan binatang, pohon tertiup angin, pesawat terbang, dsb.
2. Melakukan garakan menggantung (bergelayut).
3. Melakukan gerakan melompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi.
4. Melempar sesuatu secara terarah.
5. Menangkap sesuatu secara tepat.
6. Melakukan gerakan antisipasi.
7. Menendang sesuatu secara terarah.
8. Memanfaatkan alat permainan di luar kelas. 1. Melakukan gerakan tubuh secara terkoordinasi untuk melatih kelenturan, keseimbangan, dan kelincahan.
2. Melakukan koordinasi gerakan kaki tangan kepala dalam menirukan tarian atau senam.
3. Melakukan permainan fisik dengan aturan.
4. Terampil menggunakan tangan kanan dan kiri.
5. Melakukan kegiatan kebersihan diri.
B. Motorik halus 1. Membuat garis vertical, horizontal, lengkung kiri/kanan, dan lingkaran.
2. Menjiplak bentuk.
3. Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit.
4. Melakukan gerakan manipulative untuk menghasilkan suatu bentuk benda dengan menggunakan berbagai media.
5. Mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media. 1. Menggambar sesuai gagasannya.
2. Meniru bentuk.
3. Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan.
4. Menggunakan alat tulis dengan benar.
5. Menggunting sesuai dengan pola.
6. Menempel gambar dengan tepat.
7. Mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail.
C. Kesehatan Fisik 1. Memiliki kesesuaian antara usia dengan berat badan.
2. Memilliki kesesuaian antara usia dengan tinggi badan.
3. Memiliki kesesuaian antara tinggi dengan berat badan. 1. Memiliki kesesuaian antara usia dengan berat badan.
2. Memiliki kesesuaian antara usia dengan tinggi badan.
3. Memiliki kesesuaian antara tinggi dengan berat badan.
III. Kognitif
A. Pengetahuan umum dan sains 1. Mengenal benda berdsarkan fungsi (pisau untuk memotong, pensil untuk menulis).
2. Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbollik (kursi sebagai mobil).
3. Mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya.
4. Mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari (gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb).
5. Mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri. 1. Mengklasifikasikan benda berdasarkan fungsi.
2. Menunjukan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti : apa yang terjadi ketika air ditumpahkan).
3. Menyusun perencanaan kegiatan yang akan dilakukan.
4. Mengenal sebab-akibat tenteng lingkungannya (angin bertiup menyebabkan daun bergerak, air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah).
5. Menunjukan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti : “ayo kita bermain pura-pura seperti burung”).
6. Memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
B. Konsep bentuk, warna, ukuran dan pola 1. Mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk atau warna atau ukuran.
2. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi.
3. Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC.
4. Mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi ukuran atau warna. 1. Menyebutkan lambing bilangan 1-10.
2. Mencocokan bilangan dengan lambing bilangan.
3. Mengenal berbagai macam lambing huruf vocal dan konsonan.
C. Konsep bilangan, lambing bilangan dan huruf 1. Mengetahui konsep banyak dan sedikit
2. Membilang banyak benda satu sampai sepuluh.
3. Mengenal konsep bilangan.
4. Mengenal lambing bilangan.
5. Mengenal lambing huruf. 1. Menyebutkan lambing bilangan 1-10.
2. Mencocokkan bilangan dengan lambing bilangan.
3. Mengenal berbagai macam lambing huruf vocal dan konsonan.
IV. Bahasa
A. Menerima bahasa 1. Menyimak perkataan orang lain (bahasa ibu atau bahasa lainnya).
2. Mengerti dua perintah yang diberikan bersamaan.
3. Memahami cerita yang dibacakan.
4. Mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat (nakal, pelit, baik hati, berani, baik, jelek, dsb) 1. Mengerti beberapa perintah secara bersamaan.
2. Mengulang kalimat yang lebih kompleks.
3. Memahami aturan dalam suatu permainan.
B. Mengungkapkan Bahasa 1. Mengulang kalimat sederhana.
2. Menjawab pertanyaan sederhana.
3. Mengungkapkan perasaan dengan kata sifat (baik, senang, nakal, pelit, baik hati, berani, baik, jelek, dsb).
4. Menyebutkan kata-kata yang dikenal.
5. Mengutarakan pendapat kepada orang lain.
6. Menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan atau ketidaksetujuan.
7. Menceritakan kembali cerita/dongeng yang pernah didengar. 1. Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks.
2. Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama.
3. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
4. Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kallimat-predikat-keterangan).
5. Memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain.
6. Melanjutkan sebagian cerita/dongeng yabg telah diperdengarkan.
C. Keaksaraan 1. Mengenal simbol-simbol.
2. Mengenal suara-suara hewan/ benda yang ada disekitarya.
3. Membuat coretan yang bermakna.
4. Meniru huruf 1. Menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal.
2. Mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya.
3. Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama.
4. Memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf.
5. Membaca nama sendiri.
6. Menuliskan nama sendiri.
V. Sosial emosional 1. Menunjukan sikap mandiri dalam memilih kegiatan.
2. Mau berbagi, menolong, dan membantu teman.
3. Menunjukan antusiasme dalam melakukan permainan kompetitif secara positif.
4. Mengendalikan perasaan.
5. Menaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan.
6. Menunjukan rasa percaya diri.
7. Menjaga diri sendiri dari lingkunganya.
8. Menghargai orang lain. 1. Bersikap kooperatif dengan teman.
2. Menunjukan sikap toleran.
3. Mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang-sedih-antusias dsb)
4. Mengenal tata karma dan sopan santun sesuai dengan nilai social budaya setempat.
5. Memahami peraturan dan disiplin.
6. Menunjukan rasa simpati.
7. Memiliki sikap gigih (tidak mudah menyerah).
8. Bangga terhadap gasil karya sendiri.
9. Menghargai keunggulan orang lain.

Berdasarkan standar tingkat pencapaian perkembangan tersebut, pengelola lembaga PAUD dapat menyusun program semester dengan mengembangkan indikator perkembangan serta tema pembelajaran yang bermakna bagi anak usia dini dan sesuai dengan tema atau konteks pembelajaran tertentu.
STTP juga dapat dijadikan sebagai dasar atau acuan untuk menilai atau mengassesmen perkembangan anak pada berbagai aspek perkembangan dan rentang usia tertentu.

B. Standar Pendidik & Tenaga Kependidikan

Pendidik anak usia dini adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran serta melakukan pembimbingan, pengasuhan dan perlindungan anak didik. Pendidik PAUD jalur formal dapat terdiri dari guru dan guru pendamping sedangkan pada PAUD nonformal terdiri atas guru, guru pendamping dan pengasuh. Standar pendidik anak usia dini telah disepakati dalam PP nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan yang mengharuskan kualifikasi akademik pada strata satu (S-1) atau D-4 pada bidang PAUD, psikologi dan bidang pendidikan yang sejalan. Adapun kualifikasi tenaga guru pendamping adalah D-2 PGTK dari perguruan tinggi yang terakreditasi.

C. Standar Isi, Proses dan Penilaian

Standar isi, proses dan penilaian menurut Permendiknas no 58 tahun 2009 meliputi struktur program, alokasi waktu, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian yang dilakukan secara terpadu/terintegrasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. Mempertimbangkan adanya keberagaman letak, kondisi dan potensi daerah setempat, maka dimungkinkan adaya keberagaman dari segi proses (kegiatan, pendidikan dan juga pengasuhan). Hal ini memberikan kesempatan pada pihak pengelola lembaga PAUD untuk mengembangkan program yang sesuai dengan lingkungan sekitar dan kebutuhannya. Adapun keberagaman standar isi, proses dan penilaian dapat terjadi karena keberagaman bentuk layanan PAUD yang berimplikasi pada manajemen waktu, perbedaan kelompok usia yang dilayani dan perbedaan kondisi lembaga.
a. Standar Isi
Standar isi kegiatan pembelajaran pada lembaga PAUD, memilki ciri khas yang berbeda jika dibandingkan dengan standar isi mata pelajaran untuk lembaga pendidikan sekolah dasar (SD) dan selanjutnya. Pada lembaga SD, pemerintah telah membuatkan standar isi untuk setiap mata pelajaran, dari mulai kelas I sampai kelas VI. Tidak demikian halnya dengan standar isi lembaga PAUD. Para pengelola, kepala sekolah dan pendidik harus merumuskan sendiri standar isi pada masing- masing bidang pengembangan.
Standar isi merupakan isi program pembelajaran yang dapat membantu anak usia dini mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan rentang usianya. Adapun isi program pembelajaran pada lembaga PAUD dapat digambarkan melalui berbagai aktivitas permainan, yang akan mambantu anak usia dini mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan usia.
Beberapa penjelasan standar PAUD yang berkaitan dengan isi program dapat disampaikan sebagai berikut :
Standar Isi merupakan isi program pengembangan yang dijabarkan dalam rangka membantu anak usia dini mencapai tingkat perkembangan pada berbagai aspek perkembangan sesuai dengan rentang usia. Isi Program merupakan suatu bentuk aktivitas bermain dalam rangka pencapaian tingkat perkembangan pada berbagai aspek melalui suatu konteks tertentu dalam kehidupan anak.
1. Struktur program
Struktur program kegiatan PAUD mencakup bidang pengembangan pembentukan prilaku dan bidang pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan bermain dan pembiasaan. Lingkup pengembangan tersebut meliputi :
a) Nilai-nilai agama dan moral
b) Fisik
c) Kognitif
d) Bahasa
e) Social Emosional
2. Bentuk Kegiatan Layanan
a) Kegiatan PAUD untuk kelompok 0 - < 2 tahun
b) Kegiatan PAUD untuk kelompok 2 - < 4 tahun
c) Kegiatan PAUD untuk kelompok 4 - ≤ 6 tahun
d) Kegiatan pengasuhan anak usia 0 - ≤ 6 tahun yang dilakukan setelah kegiatan a, b, dan c selesai dilakukan.
e) Kegiatan penitipan anak usia 0 - ≤ 6 tahun yang dilakukan dengan menggabungkan kegiatan a atau b dengan c.
3. Alokasi waktu
a) Kelompok 2 - < 4 tahun
- Satu kali pertemuan selama 180 menit
- Dua kali pertemuan per minggu
- Tujuh belas minggu per semester
- Dua semester per tahun
b) Kelompok usia 4 - ≤ 6 tahun
PAUD jalur pendidikan formal
- Satu kali pertemuan selama 150-180 menit
- Enam atau lima hari per minggu, dengan jumlah pertemuan sebanyak 900 menit (30 jam @ 30 menit)
- Tujuh belas minggu per semester
- Dua semester dalam satu tahun
PAUD jalur pendidikan nonformal
- Satu kali pertemuan selama 180 menit
- Tiga hari per minggu
- Tujuh belas minggu per semester
- Dua semester dalam satu tahun
c) Kegiatan pengasuhan anak usia 0 - ≤ 6 tahun
Alokasi waktu disesuaikan dengan sisa waktu dari penitipan dikurangi dengan kegiatan terstruktur yang sudah dilaksanakan, sesuai dengan jenis kegiatan dan kelompok usia.
4. Rombongan belajar
a) PAUD jalur pendidikan formal
Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar sebanyak 20 peserta didik dengan 1 orang guru TK/RA atau guru pendamping. Kelompok A untuk anak usia 4-5 tahun dan kelompok B untuk anak usia 5-6 tahun.
b) PAUD jalur pendidikan nonformal
Jumlah peserta didik setiap rombongan bersifat fleksibel, disesuaikan dengan usia dan jenis layanan program dan tersedia minimal seorang guru/guru pendamping. Selain itu harus tersedia pengasuh dengan perbandingan antara pendidik ( guru/guru pendamping/pengasuh) dan peserta didik sbb :
- Kelompok usia 0 - < 1 tahun 1:4 anak
- Kelompok usia 1 - < 2 tahun 1:6 anak
- Kelompok usia 2 - < 3 tahun 1:8 anak
- Kelompok usia 3 - < 4 tahun 1:10 anak
- Kelompok usia 4 - < 5 tahun 1:12 anak
- Kelompok usia 5 - < 6 tahun 1:15 anak
5. Kalender pendidikan
Kelender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif pembelajaran, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Kalender pendidikan tersebut disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.

Cara mengembangkan isi program
Standar isi pengembangan program pembelajaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
• Menelaah isi STPP (Standar Tingkat Pencapaian Tingkat Perkembangan).
• Mengembangkan indikator perkembangan sesuai dengan lingkup dan tingkat pencapaian perkembangan.
• Mengidentifikasi, memilih dan mengembangkan tema serta jaringannya.
• Membuat bentuk kegiatan “bermain” atau permainan pada STPP dan tema yang digunakan.
Lingkup Aspek Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan Indikator
Nilai-nilai Agama & Moral 1. Mengenal Tuhan melalui agama yang dianutnya. 1. Menyebut nama Tuhan.
2. Menunjukkan rasa syukur pada Tuhan.
3. Menemukan perbedaan dirinya sebagai ciptaan Tuhan dengan ciptaan lainnya.
2. Menirukan gerakan beribadah. 1. Memperagakan gerakan dalam berdo’a.
2. Menirukan gerakan sholat.
3. Membiasakan diri berinfak, shodakoh.
4. Mulai meniru kegiatan berpuasa.
5. Menirukan gerakan ibadah haji.
3. Mengenal perilaku baik/buruk (akhlak) 1.

Lingkup Aspek Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan Indikator Perkembangan Isi Program
Tubuhku (My Body) Panca Indra (Mata)
Nilai-nilai Agama & Moral 1. Mengenal Tuhan melalui agama yang dianutnya. 2. Menyebut nama Tuhan.
Mengamati perbedaan makhluk ciptaan Allah
Mengamati tubuh ciptaan manusia dengan tubuh ciptaan Tuhan
Bernyanyi “Aku diciptakan Allah”.
2. Menirukan gerakan beribadah 2. Memperagakan gerakan dalam berdo’a. Berdoa agar memiliki tubuh yang sehat dan cerdas.
Membiasakan berdoa


b. Standar Proses

Dalam standar proses, perencanaan merupakan hal yang sangat penting. Perencanaan program tersebut terbagi atas perencanaan mingguan dan perencanaan harian. Ada pun perencanaan program yang disusun oleh pendidik mencakup tujuan, isi dan rencana pengelolaan program yang disusun dalam Rencana Kegiatan Mingguan dan Rencana Kegiatan Harian. Pelaksanaan program berisi proses kegiatan pendidikan, pengasuhan dan perlindungan yang dirancang berdasarkan pengelompokan usia anak dengan mempertimbangkan karakteristik perkembangan anak dan jenis layanan PAUD.
Dalam pelaksanaan kegiatan PAUD, penilaian merupakan rangkaian kegiatan pengamatan, pencatatan, dan pengolahan data perkembangan anak dengan menggunakan metode dan instrument yang sesuai. Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik selama mengikuti pembelajaran.
Beberapa penjelasan standar PAUD yang berkaitan dengan standar proses dapat disampaikan sebagai berikut :
Standar Proses merupakan acuan yang menggambarkan tentang bagaimana konsep dan langkah proses pembelajaran dilaksanakan pada lembaga PAUD.
Ruang lingkup standar proses :
1. Perencanaan
a. Pengembangan Rencana Pembelajaran
- Perenacanaan penyelenggaraan PAUD meliputi perencanaan semester, Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH).
- Rencana Kegiatan untuk usia 0-2 tahun bersifat individual. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan jadwal harian masing-masing anak.
b. Prinsip-prinsip
- Memperhatikan tingkat perkembangan, kebutuhan, minat dan karakteristik anak.
- Mengintegrasikan kesehatan, gizi, pendidikan, pengasuhan dan perlindungan.
- Pembelajaran dilaksanakan melalui bermain.
- Kegiatan pembalajaran dilakukan secara bertahap, berkesinambungan dan bersifat pembiasaan.
- Proses pembelajaran bersifat aktif, kreatif, interakif, efektif dan menyenangkan.
- Proses pembelajaran berpusat pada anak.
c. Pengorganisasian
- Pemilihan metode yang tepat dan bervariasi.
- Pemilihan alat bermain dan sumber belajar yang ada di lingkungan.
- Pemilihan tekhnik dan alat penilaian sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan.
2. Pelaksanaan
a. Penataan lingkungan bermain
- Mencipkatan suasana bermain yang aman, nyaman, bersih, sehat dan menarik.
- Penggunaan alat permainan edukatif memenuhi standar keamanan, kesehatan dan sesuai dengan fungsi stimulasi yang telah direncanakan.
- Memanfaatkan lingkungan.
b. Pengorganisasian kegiatan
- Kegiatan dilaksanakan di dalam ruang/kelas dan di luar/kelas.
- Kegiatan dilaksanakan dengan situasi yang menyenangkan.
- Kegiatan untuk anak usia 0 - < 2 tahun bersifat individual.
- Pengeloalaan kegiatan pembelajaran anak usia 2 -< 4 tahun dalam kelompok besar, kelompok kecil dan individu meliputi inti dan penutup.
- Pengeloalaan kegiatan pembelajaran anak usia 4 - ≤ 6 tahun dalam, kelompok besar, kelompok kecil dan individu meliputi 3 kegiatan pokok yaitu pembukaan, inti dan penutup.
- Melibatkan orang tua/keluarga.
Acuan proses pembelajaran ini, selengkapnya akan dijelaskan pada acuan standar sistem pembelajaran lembaga PAUD tersendiri.

c. PENILAIAN
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan tingkat pencapaian perkembangan anak yang mencakup :
1) Teknik penilaian
Pengamatan, penugasan, unjuk kerja, pencatatan anekdot, percakapan/dialog, laporan orang tua dan dokumentasi hasil karya anak (fortofolio) serta deskripsi profil anak.
2) Lingkup
- Mencakup seluruh tingkat pencapaian perkembangan peserta didik.
- Mencakup data tentang status kesehatan, pengasuhan dan pendidikan.

3) Proses
- Dilakukan secara berkala, intensif, bermakna , menyeluruh dan berkelanjutan.
- Pengamatan dilakukan pada saat anak melakukan aktivitas sepanjang hari.
- Secara berkala tim pendidik mengkaji ulang ctatan perkembangan anak dan berbagai informasi lain termasuk kebutuhan khusus anak yang dikumpulkan dari hasil catatan pengamatan, anekdot, check list dan fortofolio.
- Melakukan komunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak termasuk kebutuhan khusus anak.
- Dilakukan secara sistematis, terpercaya dan konsisten.
- Memonitor semua aspek tingkat pencapaian perkembangan anak.
- Mengutamakan proses dampak hasil.
- Pembelajaran melalui bermain dengan benda konkrit.

4) Pengelolaan Hasil
- Pendidik membuat kesimpulan dan laporan kemajuan anak berdasarkan informasi yang tersedia.
- Pendidik menyusun dan menyampaikan laporan perkembangan anak secara tertulis kepada orang tua secara berkala, minimal sekali dalam satu semester.
- Laporan perkembangan anak disampaikan kepada orang tua dalam bentuk laporan lisan dan tertulis secara bijak, disertai saran-saran yang dapat dilakukan orang tua di rumah.
5) Tindak Lanjut
- Pendidik menggunakan hasil penilaian untuk meningkatkan kompetensi diri.
- Pendidik menggunakan hasil penilaian untuk memperbaiki program, metode, jenis aktivitas/kegiatan, penggunaan dan penataan alat permainan edukatif, alat kebersihan dan kesehatan, serta untuk memperbaiki sarana dan prasarana termasuk untuk anak dengan kebutuhan khusus.
- Mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk mendiskusikan dan melakukan tindak lanjut untuk kemajuan perkembangan anak.
- Pendidik merujuk keterlambatan perkembangan anak kepada ahlinya melalui orang tua.
- Merencanakan program layanan untuk anak yang melalui kebutuhan khusus.

Acuan penilaian ini, selengkapnya akan dijelaskan pada acuan standar penilaian lembaga PAUD tersendiri.



D. Standar Sarana Prasarana

1. Standar Sarana Prasarana
Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pelayanan PAUD. Standar sarana dan prasarana meliputi jenis, kelengkapan, dan kualitas fasilitas yang digunakan dalam menyelenggarakan proses penyelenggaraan PAUD. Standar pengelolaan merupakan kegiatan manajemen satuan lembaga PAUD. Standar pembiayaan meliputi jenis dan sumber pembiayaan yang diperlukan dalam penyelenggaraan dan pengembangan lembaga PAUD.
Sarana dan prasarana adalah perlengkepan untuk mendukung kegiatan pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan. Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kndisi social, budaya, dan jenis layanan PAUD.

1. Prinsip:
1.1 Aman, nyaman, terang dan memenuhi criteria kesehatan bagi anak.Sesuai dengan tingkat perkembangan anak
1.2 Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar, termasuk barang limbah/bekas layak pakai.
2. Persyaratan
2.1 PAUD Jalur Pendidikan Formal
2.1.1 Luas lahan minimal 300m2
2.1.2 Memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per serta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak.
2.1.3 Memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik.
2.1.4 Memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep.
2.1.5 Memiliki peralatan pendukung keaksaraan.
2.2 PAUD Jalur Pendidikan Nonformal
2.2.1 Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anank, dan kelompok usia yang dilayani, dengan luas minimal 3 m2 perperserta didik.
2.2.2 Minimal memiliki ruangan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas anak yang terdiri dari ruang dalam dan ruang luar, dan kamar mandi/jamban yang dapat digunakan untuk kebersihan diri dan BAK/BAB (toileting) dengan air bersih yang cukup.
2.2.3 Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan
kelompok usia yang di layani.
2.2.4Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan yang dapat
mengembangkan berbagai konsep.
2.2.5 Khusus untuk TPA, harus tersedia fasilitas untuk tidur, mandi, dan istirahat siang.

B.. Standar Pengelolaan
Pengelolaan dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak dan kebutuhan anak, serta kesinambungan pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini.
1. Prinsip Pengelolaan:
1.1 Program dikelola secara partisipatoris.
1.2 PAUD Jalur pendidikan formal menerapkan manajemen berbasisi sekolah yang ditunjukan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
1.3 PAUD jalur pendidikan nonformal menerapkan manajemen berbasis masyarakat.
2. Bentuk Layanan:
2.1 Paud Jalur pendidikan formal untuk anak usia 4 - ≤ 6 tahun, terdiri atas:
2.1.1 Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal
2.1.2 Bentuk lain yang sederajat.
2.2 PAUD jalur pendidikan nonformal terdiri atas:
2.2.1 Taman Penitipan Anak untuk anak usia 0 - ≤ 6 tahun
2.2.1 Kelompok Bermain untuk anak usia 2 - ≤ 6 tahun
2.2.3 Bentuk lain yang sederajat untuk anak usia 0 - ≤ 6 tahun
3. Perencanaan Pengelolaan:
3.1 Setiap lembaga Paud perlu menetapkan vis, misi dan tujuan lembaga, serta
mengembangkannya menjadi program kegitan nyata dalam rangka pengelolaan dan peningkatan kualitas lembaga.
3.2 Visi, misi, dan tujuan lembaga dijadikan cita-cita dan upaya bersama agar mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada semua pihak yang berkepentingan.
3.3 Visi, misi, dan tujuan lembaga dirumuskan oleh pimpinan lembaga bersama
masyarakat, pendidik dan tenaga kependidikan.
3.4 Untuk Paud Formal, selain butir 3.3 vusu, misi, dan tujuan juga dirumuskan bersama dengan komite sekolah.
3.5 Program harus memiliki izin sesuai dengan jenis penyelenggara program.
4. Pelaksanaan Pengelolaan
4.1 Pengelolaan Administrasi kegiatan meliputi:
4.1.1 Data anak dan perkembangannya;
4.1.2 Data lembaga;
4.1.3 Administrasi keuangan dan program.
4.2 Pengelolaan sumber belajar/media meliputi pengadaan, pemanfaatan dan
perawatan:
4.2.1 Alat bermain;
4.2.2 Media pembelajaran; dan
4.2.3 Sumber belajar lainnya.
5. Pengawasa dan Evaluasi
5.1 Lembaga memiliki mekanisme untuk melakukan pengawasan dan evaluais program minimal satu kali dalam satu semester


E. Standar Pembiayaan

Pembiayaan meliputi jenis, sumber, dan pemanfaatan, serta pengawasan dan pertanggung jawaban dalam penyelenggaraan dan pengembangan lembaga PAUD yang dikelola secara baik dan transparan.
1. Jenis dan Pemanfaatannya:
1.1 Biaya investasi, dipergunakan untuk pengadaan sarana, pengembangan SDM, dan kerja tetap.
1.2 Biaya operasional, digunakan untuk gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan yang melekat, bahan atau peralatan pendidikan habis pakai dan biaya operasional pendidikan tak langsung.
1.3 Biaya personal, meliputi biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
2. Sumber Pembiayaan
Biaya investasi, operasioanl, dan personal dapat diperoleh dari pemerintah, pemerintah daerah, yayasan, partisipasi masyarakat dan/atau pihak lain yang tidak mengikat.
3. Pengawasan dan Pertanggungjawaban
Lembaga memiliki mekanisme untuk melakukan pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.



LANGKAH- LANGKAH PENYUSUNAN
DOKUMEN KURIKULUM PAUD

A. Memahami Seluruh Naskah Dasar dan Dokumen KTSP

Agar pengelola dapat menyusun kurikulum pada suatu lembaga PAUD, perlu mempelajari dan memahami seluruh komponen dan penjelasannya dari standar PAUD (Permendikas no. 58 tahun 2009). Aspek dan penjelasan standar PAUD telah disampaikan pada bab sebelumnya. Pengelola sebaiknya mempelajari terlebih dahulu dokumen inti yang berkaitan dengan (1) standar tingkat pencapaian perkembangan, (2) standar isi dan cara mengembangkannya, (3) proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, dan (4) penilaian yang akan dilakukan.
Pada tahap pemula, keempat dokumen tersebut dapat diadopsi (diambil alih) menjadi dokumen kurikulum pada suatu satuan PAUD. Pada tahap lebih lanjut, pengelola dapat mengadaptasi isi naskah standar PAUD sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan suatu lembaga PAUD. Pada tahap yang diinginkan, lembaga PAUD sudah mampu menyusun dan mengembangkan sendiri kurikulum PAUD sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lembaganya.






B. Menyusun Draft Naskah KTSP

Pada langkah ini, pengelola menyusun suatu draft kurikulum PAUD untuk lembaganya. Adapun isi draft dapat mencontoh penjelasan dan contoh yang terdapat dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikeluarkan oleh BSNP. Contoh draft kurikulum yang dimaksud:
 BAB I Pendahuluan
 BAB II Tujuan Pendidikan
 BAB III Struktur dan Muatan Kurikulum
 BAB IV Kalender Pendidikan

Draft tersebut dapat dimodifikasi dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing- masing lembaga PAUD. Contoh draft alternative dapt disusun sebagai berikut :
 PENDAHULUAN
 BAB II PROFIL LEMBAGA
 BAB III KONDISI LEMBAGA
 BAB IV STRUKTUR KURIKULUM
 BAB V PENUTUP
 LAMPIRAN


C. Membuat Evaluasi Diri Lembaga

Evaluasi diri lembaga merupakanupaya yang dilakukan oleh pengelola dan seluruh pendidik PAUD untuk melakukan penilaian terhadap kondisi lembaganya secaraobyektif, jujur, dan terbuka. Peenjelasan bagaimana melakukan evaluasi diri ini, disampaikan pada acuan pengelolaan. Evaluasi diri yang dilakukan oleh suatu lembaga PAUD, sangat berguna dalam menggambarkan kondisi dan profil lembaga secara apa adanya sekaligus menjadi dasar untuk menyusun program tahunan, pada suatu lembaga PAUD.
D. Menyusun Isi Dokumen pada masing- masing bab

Cara pengisian masing- masing bab dalam dokuken kurikulum, dapat dijelaskan dengan menggunakan panduan sebagai berikut:


Panduan Penulisan BAB I
A. Latar Belakang
(contoh penulisan)
1. Mengungkapkan tentang kondisi atau hal-hal yang menjadi latar belakang satuan PAUD mengembangkan KTSP.
2. Kondisi yang menjadi harapan atau cita-cita dan/atau perintah UU atau Peraturan Pemerintah dapat dikutif menjadi latar belakang penyusunan dokumen.
3. Memuat uraian naratif tentang tugas dan kompetensi professional satuan PAUD sebagai penyelenggara pendidikan yang dikelola secara profesional Kurikulum merupakan salah satu komponen utama dalam menyelenggarakan pendidikan pada setiap satuan pendidikan
UU NO. 20 tahun 2003 telah memberikan amanah bahwa setiap satuan pendidikan mempunyai kewenangan untuk menyusun dan mengembangkan sendiri kurikulum.
Pada PP No.19 tahun 2005 pasal…ayat…menegaskan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan.
Guru adalah suatu profesi yang telah diakui keberadaannya berdasarkan UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
Salah satu tugas profesional guru adalah menguasai, merancang dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan satuan pendidikan tempat guru mengajar.
Dalam perkembangan 10 tahun terakhir telah terjadi ragam persainggan anatara lembaga penyelenggara PAUD di berbagai tempat.
Pada sisi lain kecenderungan animo masyarakat mulai bergerak kearah penyelenggaraan PAUD yang unggul dan bermutu.
Atas dasar kondisi tsb, TK Biasa Aje berupaya untuk merumuskan arah kurikulum yang disepakati antara pimpinan lembaga, dewan guru dan komite.



1. Tujuan ini menggambarkan arah kurikulum yang akan disusun dan dikembangkan oleh satuan PAUD ybs.
2. Menjadi pengarah pada isi yang akan disusun dalam KTSP satuan PAUD ybs.
3. Dirumuskan dalam bentuk spesifik dan jelas (bukan tujuan satuan PAUD). B. Tujuan Penyusunan Dokumen
1. Tujuan dokumen ini disusun agar menjadi panduan dan pemahaman konsep serta praktik pendidikan yang sejalan bagi seluruh dewan guru.






C. Prinsip
1. Mendeskripsikan prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dan acuan dalam mengembangkan KTSP satuan PAUD.
2. Dapat ditelaah dan dipertimbangkan dari prinsip umum dalam menyusun KTSP panduan BSNP. 1. Adaptasi
2. Kontinuitas
3. Relevansi
4. fleksibilitas


1. Mengungkapkan lingkup pengembangan kurikulum yang dilaksanakan dan lingkup standar PAUD yang hanya diadopsi dan/atau diadaptasi.
2. Lingkup menunjukkan seberapa wilayah kurikulum yang secara kreatif dan inovatif dilakukan oleh satuan pendidikan D. Ruang Lingkup
1. Mengembangkan beberapa bidang pengembangan yang sejalan dengan STPP.
2. Merumuskan dan mengembangkan standar isi program dengan memperhatikan beberapa unggulan program








E. Menyusun Dokumen Silabus dan RKH

Langkah berikutnya setelah dokumen kurikulum berhasil disusun, pengelola beserta pendidik dapat melanjutkan pekerjaan dengan menyusun dokumen silabus dan rencana kegiatan harian (RKH). Kedua dokumen ini merupakan dokumen lampiran dari dokumen kurikulum suatu lembaga PAUD. Silabus yang dimaksud dalam dokumen ini adalah silabus yang dapat menggambarkan adanya rencana kegiatan mingguan. Penjelasan tentang langkah- langkah penyusunan silabus dan RKH ini dapat dipelajari dari acuan sistem pembelajaran.







PENUTUP


Acuan ini disusun sebagai upaya untuk membimbing para pengelola lembaga PAUD dalam memahami dan menjabarkan secara operasional standar PAUD yang terdapat dalam Permendiknas no 58 tahun 2009. Melalui acuan ini, para pengelola diharapkan dapat terbimbing dalam menyusun dokumen kurikulum sesuai dengan kebutuhan, karakteristik dan kemampuan lembaga PAUD masing- masing mengacu pada standar PAUD yang telah ditetapkan. Disamping itu, acuan ini diharapkan menjadi bahan bimbingan tehnis yang dapat dilakukan oleh pemerintah maupun akademisi dalam membantu lembaga PAUD menyusun dokumen kurikulumnya.




















Daftar Pustaka

Abdullah, Ambo Enre. Pendidikan dalam Otonomi Daerah, Nasional dan Global. Semiloka FIP dan JIP Se-Indonesia, Makassar, 2001

Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kebijaksanaan Umum. Pusat Kurikulum, Jakarta, 2001.

Hamidjojo, Santoso. S. Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional dalam rangka Reformasi Pendidikan Nasional menuju Indonesia Baru, Konaspi: Jakarta, 2000.

Hapidin, Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Yayasan Bani Saleh: Bekasi, 2002.

Hapidin, Strategi Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini. STAI Bani Saleh: Bekasi, 2005.

Hapidin, Manajemen Pendidikan TK. Jakarta : Yayasan Karunika, Universitas Terbuka, 2003.

Muhaimin, dkk. Pengembangan Model Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta, Rajawali Pers, 2008.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Rosda Karya, 2003.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

Departemen Pendidikan Nasional;, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, 2005.

Hapidin. 2008. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Syafii Antonio. 2008. The Super Leader Super Manager. Jakarta: …….
Hapidin. 2009. Pengembangan Model Analisis Konteks dalam KTSP. Bekasi.
Suharsimi Arikunto. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Merencanakan Pembelajaran di Lembaga PAUD

Merencanakan Kegiatan Pembelajaran di Kelompok Bermain
Oleh : Drs. Hapidin, MPd.
A. MENGAPA PERENCANAAN ITU PENTING ?
Penyelenggaraan perencanaan pembelajaran merupakan awal dari sebuah proses pembelajaran. Bagian utama dalam pelaksanaan kurikulum di sebuah lembaga pendidikan terdapat di proses pembelajaran. Oleh karena itu guru atau pendidik dituntut dapat mendisain dan melaksanakan sebuah proses pembelajaran. Hal tersebut menjadi salah satu tugas profesional seorang guru. Dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru dapat menggunakan landasan konsep teori perencanaan pembelajaran atau dikenal dengan instructional planning atau konsep perencanaan yang dikehendaki dalam kurikulum. Kurikulum memuat berbagai konsep pengaturan kegiatan pendidikan, diantaranya adalah kegiatan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Hal ini memberikan isyarat bahwa sebelum merencanakan pembelajaran, guru harus memahami konsep kurikulum yang menjadi kesepakatan dalam penyelenggaraan pendidikan. Konsep kurikulum yang dimaksud tidak hanya kurikulum generik (umum) yang biasannya disusun dan dikembangkan pemerintah tetapi juga meliputi kurikulum yang secara khas dipergunakan dan dikembangkan oleh suatu lembaga pendidikan.
Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah memberlakukan beberapa kebijakan tentang pemberlakuan dan penggunaan kurikulum pada setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan. Pola perubahan kurikulum tersebut dengan berbagai latar belakangnya telah memberi pengaruh pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran, termasuk kegiatan merencanakan pembelajaran. Sebelum pemberlakuan KTSP, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran merupakan bagian yang secara teknis diatur dalam kurikulum sehingga muncul bentuk panduan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis kegiatan belajar mengajar. Bentuk panduan seperti itu tidak diadakan lagi dalam pelaksanaan KTSP sesuai dengan semangat desentralisasi dan menajemen berbasis sekolah. Pelaksanaan KTSP dalam bentuk teknis merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sepenuhnya diserahkan pada pihak penyelenggara pendidikan, khususnya guru sebagai tenaga profesional. KTSP hanya memuat konsep atau rumusan-rumusan umum tentang perencanaan silabus dan kegiatan pembelajaran. Rumusan umum tersebut dapat dijadikan landasan berpikir guru untuk membuat berbagai bentuk perencanaan pembelajaran dan pola kegiatan pembelajaran secara bebas, variatif dan kreatif. Dengan demikian, kebijakan kurikulum tidak lagi membelenggu tugas profesional guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Penjabaran di atas menggambarkan bahwa perencanaan merupakan tahapan penting dalam proses pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran harus dipersiapkan sebaik mungkin dan bukan hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi akademik. Terlebih lagi dalam perencanaan pembelajaran dapat terlihat pemahaman dokumen normative dan alternative, dan menuangkan pemahaman itu menjadi dokumen aplikatif (silabus dan RKH) yang siap dilaksanakan. Oleh karena itu, perencanaan pembelajaran yang didisain oleh guru merupakan salah satu bukti profesionalisme.




B. LANDASAN YURIDIS
Kerangka landasan yuridis dimaksudkan memberikan acuan hukum dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan undang – undang. Ada pun undang – undang yang dijadikan rujukan adalah :
1. Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 28.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
C. RUANG LINGKUP PERENCANAAN
Ruang lingkup perencanaan pembelajaran anak usia dini terdiri dari :
1. Perencanaan Tahunan/Semester.
2. Perencanaan pembelajaran pertema (silabus).
3. Perencanaan kegiatan harian (RKH).















D. Acuan Dalam Merencanakan Kegiatan Pembelajaran
Dalam (peristilahan), konsep atau rumusan “perencanaan” seringkali digunakan. Sebagai contoh, sebelum suatu keluarga mengadakan resepsi pernikahan atau khitanan biasanya keluarga tersebut memperkirakan dan menyusun kebutuhan yang diperlukan untuk kepentingan resepsi. Disamping itu juga disusun langkah-langkah kerja yang akan dilakukan sampai terlaksananya acara resepsi yang diinginkan, misalnya pendataan undangan, pembuatan surat, penyebaran undangan, peminjaman gedung serta alat-alat lainnya yang diperlukan.
Dalam berbagai kamus, kita dapat menemukan pengertian istilah “perencanaan”. Menurut kamus Administrasi yang disusun The Liang Gie, perencanaan diartikan sebagai :
“Suatu aktivitas yang menggambarkan di muka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakannya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan” (The Liang Gie, 1972, h.316).
Aktivitas yang dimaksud dalam pengertian tersebut bisa berwujud memikirkan, memperkirakan dan menyusun suatu rancangan kegiatan. Murdick dan Ross (1982, p.53) memberikan batasan perencanaan sebagai “the tought that procedes the action it involves development and selection from alternatives on the necessary course of action to objectives”.
Dalam definisi tersebut, Murdick dan Rose menekankan kegiatan perencanaan pada kegiatan pemikiran untuk merancang _nsure_or_e-alternatif tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Pendapat tersebut sejalan dengan pandangan Ely (1979, h.7), yang membatasi pengertian perencanaan sebagai suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan.
Perencanaan sebagai suatu proses dipandang Oemar Hamalik memiliki beberapa tahapan. Beberapa tahapan yang dimaksud adalah :
1. Menetapkan _nsure pengajaran.
2. Merumuskan tujuan pengajaran.
3. Merencanakan dan melaksanakan evaluasi.
4. Mendeskripsikan dan mengkaji tugas.
5. Melaksanakan prinsip-prinsip pengajaran.

Kelima langkah tersebut merupakan kegiatan integral, dimana antara langkah yang satu berkaitan dengan langkah lainnya. Dalam konsepsi ini, pengertian perencanaan sudah dikaitkan dengan kegiatan pengajaran.
Dalam membuat perencanaan pengajaran penting sekali diperhatikan memandang pengajaran sebagai suatu sistem tersebut, sehingga guru memperhatikan berbagai segi yang esensial atau mendasar dalam kegiatan pengajaran. Bentuk pengajaran utuh sebagai suatu _nsure akan mengandung materi (bahan yang akan diajarkan), tujuan atau kemampuan yang akan dicapai, proses belajar mengajar yang akan diciptakan dan mendukung tercapainya tujuan, metode yang sesuai, media yang akan digunakan, fasilitas yang akan digunakan serta bentuk dan prosedur evaluasi yang akan dilakukan.
Uraian diatas memberikan beberapa kesimpulan yang dapat ditarik yaitu konsep perencanaan, pengajaran/pembelajaran dan perencanaan pengajaran/pembelajaran. Perencanaan dapat dipandang sebagai suatu proses merumuskan, menyusun dan menentukan _nsure_or_e langkah-langkah yang dilakukan dengan cara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pengajaran dapat diartikan sebagai suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan guru untuk menciptakan dan mengembangkan situasi atau iklim kelas (kegiatan belajar mengajar) yang mendorong, merangsnag serta menantang anak didik (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar secara optimal. Berdasarkan kedua rumusan tersebut dapat disusun rumusan pengertian tentang perencanaan pengajaran. Perencanaan pengajaran dapat dipandang sebagai suatu proses merumuskan, menyusun dan menentukan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
Dengan demikian jelaslah bahwa suatu perencanaan pengajaran mutlak diperlukan dan dilakukan jika guru ingin melakukan kegiatan pengajaran secara sistematis dan logis. Pelaksanaan kegiatan pengajaran yang sistematis dapat menghasilkan kegiatan belajar yang teratur dan dapat dikontrol.

2. Jenis Perencanaan Pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dilihat dari alokasi waktu terdiri atas 3, yaitu:
a. Perencanaan Tahunan/Semester.
Perencanaan kegiatan di awal tahun merupakan salah satu tahapan awal yang harus dilakukan oleh beberapa guru. Perencanaan ini akan menggambarkan susunan strategi yang dilakukan lembaga dan juga guru dalam mencapai tujuan. Ada pun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan tahunan ini yaitu kalender akademik, sebaran tema dalam satu tahun dan jumlah indikator di setiap aspek perkembangan.
Ruang lingkup perencanaan tahunan ini meliputi perencanaan kegiatan rutin, seperti kegiatan pentas seni, memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia atau kegiatan memperingati hari besar lainnya. Perencanaan lainnya berkaitan dengan tema atau pun dengan kompetensi, seperti pejalanan sekolah (field trip), bazar (market day), atau kegiatan lainnya yang menunjang pembelajaran.
Hal tersebut di atas merupakan perencanaan yang berkaitan dengan kegiatan anak. Perencanaan tahunan juga memuat tujuan pengembangan di setiap aspek. Tujuan pembelajaran dalam kurikulum KTSP terdapat dalam standar isi yang memuat standar perkembangan, perkembangan dasar dan indikator.
b. Perencanaan pembelajaran pertema (silabus).
Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus sebagai acuan pengembangan rencana kegiatan harian memuat identitas aspek perkembangan, tema/sub tema, Standar Perkembangan, Perkembangan Dasar, ma¬teri pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pen¬capaian perkembangan, penilaian, alokasi waktu, dan sum¬ber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Perkembangan (SP) dan Standar Kompetensi Lu¬lusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Ting¬kat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan silabus bertujuan untuk memaparkan perencanaan pembelajaran yang ada dalam silabus.
Dalam perancangan format silabus, sebaiknya dapat memperlihatkan keterkaitan antara satu aspek perkembangan dengan perkembangan lainnya. Dengan demikian, gambaran pembelajaran yang terpadu (holistic) dan terintegrasi dapat terlihat di silabus. Hal penting yang harus dilakukan guru kelompok bermain sebelum menyusun silabus yaitu menganalisa jaringan tema. Dengan adanya tema sebagai pengait antar kegiatan yang akan dilaksanakan untuk pengembangan di berbagai aspek perkembangan, maka pembelajaran yang akan dilakukan oleh anak merupakan satu kesatuan yang utuh.
c. Perencanaan kegiatan harian (RKH).
Dengan memperhatikan aktivitas pembelajaran dalam dalam satu minggu pada silabus, guru telah siap untuk mengembangkan satuan acara permainan atau satuan acara pembelajaran atau sebutan lainnya yang dapat memberikan kesan tentang rancangan kegiatan permainan edukatif. Sebelum satuan acara permainan dikembangkan guru dari silabus perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Guru harus menguasai struktur tema yang telah ditetapkan sebelumnya, terutama dari aspek kedalaman, keterkaitan, kesinambungan, kedekatan, ketertarikan dari tema-tema (sub-sub temanya) dalam kehidupan anak.
2. Rancanglah beberapa alternatif kegiatan permainan (pembelajaran) yang sesuai, tepat, dan menarik pada tema yang ada dalam program mingguan dengan mempertimbangkan hubungan antara beberapa indikator dan hasil belajar dari satu kompetensi dasar tertentu (lintas rumpun pengembangan atau dapat disebut pula hubungan kompetensi lintas kurikulum).
3. Susunlah beberapa aktivitas permainan (pembelajaran) tersebut dalam langkah kegiatan pembelajaran seperti yang tercantum dalam format Rencana Kegiatan Harian (RKH) . Format ini juga tidak dibakukan oleh pemerintah.
4. Tentukanlah _nsure_or dan hasil belajar yang sesuai pada hari tersebut atau _nsure_or lain yang dapat dicapai melalui berbagai kegiatan permainan yang akan dilakukan.
Rencana kegiatan harian sebagai gambaran perencanaan secara terperinci tentang kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari itu melihat dari perencanaan dalam silabus.
3. Tujuan Perencanaan Pembelajaran.
Tujuan perencanaan pembelajaran dapat diidentifikasi seperti dibawah ini:
a. Guru dapat melakukan kegiatan pengajaran dengan menggunakan pendekatan
b. Guru dapat menjajaki dan mengontrol seluruh proses belajar mengajar yang akan berlangsung/terjadi.
c. Guru dapat memperagakan media secara integral (terpadu).
d. Guru dapat menghindarkan diri dari kelupaan dan kebimbangan selama proses belajar mengajar berlangsung.
e. Anak didik (siswa) dapat dipersiapkan terlebih dahulu untuk menerima dan mengkaji suatu bahan / materi pengajaran.
f. Guru dapat meningkatkan hasil belajar secara efektif dan efesien.
g. Proses kegiatan belajar mengajar akan lebih lancer.

4. Pendekatan Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
Ada sejumlah konsep yang dapat menjadi rujukan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam kurikulum 2004, baik untuk Taman Kanak-kanak maupun Sekolah Dasar. Beberapa konsep yang dimaksud termuat dalam pendekatan dan prinsip kegiatan belajar mengajar kurikulum KTSP, diantaranya adalah :
- Pendekatan 5 pilar pendidikan.
Kegiatan belajar mengajar kurikulum KTSP menggunakan pendekatan 5 pilar pendidikan mempunyai maksud bahwa dalam pelaksanaan KTSP menghendaki guru merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan murid tidak hanya belajar untuk sekedar mengetahui tentang sesuatu (learning how to know) tetapi kegiatan pembelajaran yang membimbing murid dapat melakukan atau menerapkan berbagai hal yang diketahui (learning how to to), membentuk dan memiliki sikap atau nilai tertentu (learning how to be) dan menggunakan pengetahuan, nilai dan sikap dalam berinteraksi dengan orang lain (learning how to live together), keempat pilar tersebut dipayungi pilar IMTAQ (iman dan taqwa kepada Tuhan YME).
- Pendekatan Inquiri.
Pendekatan inquiri yang akan membantu murid tidak sekedar memperoleh hasil belajar yang optimal melainkan juga memperoleh berbagai keterampilan inquri yang dalam berbagai hal ditunjukkan oleh pengguasaan keterampilan proses. Keterampilan proses akan membantu murid agar proses pemerolehan berbagai konsep pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan nilai-nilai dilakukannya sendiri melalui sejumlah proses seperti mengamati, mencari, menemukan, mengklasifikasi, membedakan, mendiskusikan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.
- Pendekatan konstruktivisme.
Pendekatan ini meyakini bahwa setiap anak didik mempunyai kemauan dan kesanggupan dalam mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Tugas guru yang utama adalah sebagai disainer, motivator dan fasilitator.
- Pendekatan Jaringan pengetahuan.
Pendekatan ini mengaitkan pengetahuan yang satu dengan yang lain menjadi pengetahuan yang utuh.
- Pendekatan sistem.
Guru dapat melakukan kegiatan pengajaran dengan menggunakan pendekatan _nsure. Dalam hal ini, guru akan melaksanakan kegiatan pengajaran dengan mempertimbaangkan berbagai komponen yang seharusnya ada dalam suatu kegiatan pengajaran yang utuh (totalitas). Komponen perencanaan tersebut terdiri kemampuan (tujuan) yang akan dicapai, Pola kegiatan belajar mengajar yang akan disusun untuk mencapai target kemampuan (tujuan) yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan materi/bahan yang akan disampaikan, metode dan media yang sesuai dan akan digunakan, fasilitas yang diperlukan serta jenis dan prosedur penilaian yang akan dilakukan.

Gbr. 1
Perencanaan dengan pendekatan sistem
5. Prinsip-Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Selain acuan pendekatan pembelajaran di atas yang dijadikan rujukan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, kurikulum berbasis kompetensi telah menyediakan sejumlah prinsip dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sejumlah prinsip yang dimaksud adalah :
a. Berpusat pada Siswa (Child Centre).
Hal ini berarti bahwa pusat kegiatan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar harus bertitik tolak atau bertumpu pada aktivitas siswa sebagai individu yang belajar.
b. Belajar dengan Melakukan (Learning by Doing).
Prinsip ini didasarkan pada semangat bahwa pendidikan bukan sekedar proses pengalihan pengetahuan (transfer of knowledge) sehingga belajar hanya sekedar tahu (learning how to know) namun pendidikan atau pembelajaran harus mengantarkan dan membimbing anak didik untuk melakukan atau mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang dimiliki dalam berbagai tindakan yang nyata dan bermakna dalam keihidupan anak itu sendiri (learning how to do). dalam kehidupan nyata.
c. Mengembangkan Kemampuan Sosial.
Kegiatan belajar mengajar seharusnya dapat memberikan sejumlah pengalaman nyata pada anak didik melalui berbagai interaksi sosial dengan teman sejawatnya dan sumber belajar lain.
d. Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi dan Fitrah Bertuhan
Fitrah ber-Tuhan merupakan bekal potensi yang diamanahkan dan diberikan Tuhan pada setiap anak agar dapat dipelihara dan dikembangkan sehingga kelak anak didik menjadi pribadi dewasa yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan sesuai dengan kaidah yang diajarkan dalam agama.
e. Mengembangkan keterampilan Pemecahan Masalah
Hal ini berarti bahwa kegiatan belajar mengajar harus memberikan kesempatan pada anak didik untuk memilki berbagai keterampilan memecahkan dalam rangka penguasaan bidang studi atau bidang pengembangan tertentu.
f. Mengembangkan Kreativitas Siswa
Prinsip ini mengharuskan guru menyediakan dan menciptakan lingkungan belajar mengajar yang memberikan kesempatan dan bimbingan pada anak didik untuk bersikap dan perilaku kreatif.
g. Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Ilmu dan Teknologi
Kegiatan belajar mengajar harus memberikan kesempatan dan fasilitas pada anak didik untuk mengenal, memahami dan menggunakan ilmu dan teknologi dalam berbagai aktivitas kehidupan.
h. Menumbuhkan Kesadaran Sebagai Warga Negara yang Baik
Hal ini memberikan isayarat bahwa kegiatan belajar mengajar yang diciptakan guru seharusnya dapat memberikan kesempatan pada anak untuk mempelajari berbagai potensi dan kelemahan bangsa sehingga dapat membentuk diri sebagai warga negara yang tangguh dan bertanggung jawab.





6. Kriteria Perencanaan yang Baik.
Perencanaan yang baik secara umum mempunyai batasan atau tolok ukur, sebagai berikut :
1. Pemilihan sarana dan prasarana dilakukan secara seimbang dan relevan (sesuai) dengan situasi dan kondisi yang akan dihadapi.
2. Strategi dipilih dan ditentukan sesuai dengna ketentuan dan keadaan dalam situasi tertentu.
3. Perencana hendaknya memiliki “a sense of strategy” yaitu suatu kemampuan (“kepekaan”) dalam menyusun dan mengumpulkan kekuatan yang ada untuk memilih kedudukan yang menguntungkan dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi.
4. Memperhitungkan segi-segi yang nampak akan mempengaruhi ketercapaian tujuan yang akan diharapkan.

Adapun kriteria perencanaan pengajaran secara khusus akan mencakup :
1. Tujuan dan sumber harus jelas sebelum perencanaan disusun dan dirumuskan.
2. Adanya keterkaitan antara komponen yang terdapat dalam sistem pengajaran dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Adanya koreksi terhadap setiap kemajuan yang telah dicapai.
4. Perencanaan pengajaran harus relevan dengan kegiatan lainnya, seperti kegiatan bimbingan di TK.
5. Adanya koordinasi dalam hal tenaga, biaya, fasilitas, peralatan dan waktu.
6. Adanya evaluasi secara bertahap terhadap kemajuan yang telah diperoleh sebagai umpan balik (feed back) perbaikan atau pengembangan lebih lanjut.


B. ACUAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN ALTERNATIF
Dalam menyusun perencanaan pembelajaran ada beberapa alternative acuan/pedoman. Beberapa alternative tersebut yaitu :
1. Berdasarkan acuan kurikulum.
Perencanaan yang mengacu pada kurikulum konvensional seperti KTSP, memiliki 3 tahapan perencanaan yaitu dimulai dari perencanaan yang disususn selama satu tahun ajaran, lalu di turunkan menjadi perencanaan persemeter. Dari perencanaan selama satu semester tersebut diperjelas dalam perencanaan persatuan waktu seperti pertema yang dinamakan silabus, dan terakhir dari silabus dituangkan dalam perencanaan kegiatan harian.
Tujuan pembelajarannya pun mengacu pada standar perkembangan kurikulum yang dipakai. Tidak hanya itu, akan tetapi pendekatan, prinsip dan tahapan perencanaan proses kegiatan pembelajaran pun mengacu pada kurikulum yang dipakai. Saat ini kurikulum yang sedang disosialisasikan oleh pemerintah yaitu KTSP, maka semua perencanaan sebagai bagian dari proses pembelajaran terdapat dalam standar proses.
2. Berdasarkan acuan model pembelajaran.
Model pembelajaran merupakan suatu set disain atau rancangan isi dan langkah-langkah yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai alternatif lain yang dapat digunakan sebagai acuan merumuskan perencanaan pembelajaran yaitu dengan mengacu pada model pembelajaran yang dipakai oleh lembaga pendidikan tersebut. Adapun beberapa model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yaitu :
1. Model pembelajaran Montessori.
2. Model pembelajaran proyek.
3. Model pembelajaran sentra
4. Model pembelajaran spielformen.
5. Model pembelajaran alam.
6. Model pembelajaran simbiosis.
8. Pendekatan BCCT.
Sebagai set disain dalm pembelajaran, model pembelajaran memiliki komponen yang masing-masing dari komponen tersebut menggambarkan ciri khas dan keunikan dari model pembelajaran tersebut.

Gbr. 2
Komponen Perencanaan Pembelajaran





A. STÁNDAR PERENCANAAN PEMBELAJARAN GENERIK.
1. Perencanaan Tahunan / Semester.
Untuk satu tahun sudah ditentukan dan disusun pembiasaan-pembiasaan dan keterampilan/kemampuan yang diharapkan dicapai dalam standar isi. Di samping itu telah dipilih juga tema-tema yang dekat dengan dan sesuai dengan minat anak. Dari rencana satu tahun ini dibagi menjadi tiga bagian sehingga didapatkan perencanaan satu catur wulan. Beberapa langkah yang harus ditempuh oleh seorang pendidik dalam membuat perencanaan tahunan dan semester :
1) Untuk memulai kegiatan awal tahun ajaran baru, antara lain penyusunan jadwal dan pengadaan fasilitas yang diperlukan demi kelancaran pelaksanaan program kegiatan bermain anak didik.
2) Kegiatan semester antara lain menyiapkan program kegiatan mingguan dan harian serta pembelajaran fasilitas-fasilitas keperluan semester.

2. Perencanaan Pembelajaran pertema (silabus).
Untuk perencanaan mingguan, guru diharapkan membuat satuan kegiatan pertema atau dapat juga perminggu. Silabus ini berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai kemampuan-kemampuan yang telah direncanakan dalam waktu per tema atau satu minggu sesuai dengan tema pada minggu itu, dan segala sesuatu yang harus disiapkan oleh guru yang ada kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan pada minggu yang bersangkutan.
Sesuai dengan prinsip pembelajaran terpadu, suatu silabus sebaiknya tidak diterjemahkan untuk satu kepentingan pembelajaran satu bidang pengembangan tertentu seperti yang dicontohkan selama ini. Silabus yang dikembangkan secara parsial (terpisah) atau sendiri-sendiri akan menyulitkan pelaksanaan pembelajaran terpadu dan utuh antara satu pengembangan dengan pengembangan lainnya. Silabus pembelajaran terpadu harus menunjukkan keutuhan pembelajaran antara satu pengembangan dengan pengembangan lainnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus :
1. Menentukan dan mengembangkan jaringan tema
Pemilihan tema dan Jaringannya merupakan langkah yang paling penting dan utama agar prinsip kebermaknaan dan pengembangan life skill dapat dilakkukan. Dalam GB PKB TK 1994, penentuan tema sudah sekaligus disusun dan ditetapkan oleh kurikulum namun dalam KTSP pemilihan dan pengembangan tema diserahkan pada lembaga pembina dan penyelenggara. Bagi lembaga penyelenggara yang telah memiliki kemandirian dalam pengembangan kurikulum dapat memilih dan mengembangkan jariangan tema dengan mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai berikut :
1. Tema dan jaringannya dipilih dan ditentukan berdasarkan kecenderungan pusat minat anak.
2. Tema dan jaringan dipilih berdasarkan persepsi anak bukan persepsi orang dewasa.
3. Tema dan jaringannya dipilih berdasarkan pada objek atau aktivitas yang paling dekat dengan anak dan berangsur-angsur sampai pada tema yang paling jauh.
4. Tema dan jaringannya dipilih dan diangkat dari kehidupan, kebiasaan dan tindakan yang dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari.
5. Tema dan jaringannya mempunyai makna bagi anak dalam kehidupannya pada waktu sekarang dan yang akan datang.
Setiap tema dan jaringannya yang dipilih, seorang pengembang dapat melanjjutkan pekerjaan untuk mencari, menemukan dan mengidentifikasi berbagai konsep yang akan dijadikan sebagai bahan pembelajaran atau bagian kompetensi yang harus dikuasai. Penjelasan tersebut dapat diulas dalam bentuk langkah praktis sebagai berikut:
1. Buatlah tema-tema besar sesuai dengan prinsip di atas.
2. Untuk membuat jaringan tema, bertanyalah pada anak apa yang dia pikirkan, rasakan atau alami dan ingin dibicarakan tentang suatu tema. Sebagai contoh, jika kita tanyakan pada anak tentang Tanaman maka jawaban anak biasanya akan beragam seputar tumbuh atau membesar (proses pertumbuhan), ada daun, bunga dan buah (bagian-bagian tanaman), disiram atau dipupuk (cara merawat tanaman), dijual sama si abang sayur (pemasaran tanaman dan hasilnya), bisa dimakan (cara mengolah) dst., Dari hasil pembicaraan kita dengan anak seputar tanaman dapat disusun jaringan tema sebagai berikut :










PENGEMBANGAN JARINGAN TEMA DAN SILABUS PEMBELAJARAN
ALOKASI WAKTU : 4 MINGGU
TEMA : PLANTS

2. Menentukan tujuan dan konsep yang akan dikembangkan dari tema
Tujuan dan konsep yang dikembangkan ini akan menjadi bahan yang akan dikembangkan lebih lanjut dalam berbagai bentuk pengembangan bahan ajar, pendekatan/metode, media dan sumber belajar serta langkah-langkah pembelajaran dan strategi pelaksanaannya. Berdasarkan tema dan jaringannya di atas dapat disusun tujuan dan konsep yang dikembangkan sebagai berikut :
a. Tujuan
1) Anak dapat memberikan gambaran tentang proses pertumbuhan tanaman.
2) Anak dapat menyampaikan bagian-bagian tanaman.
3) Anak dapat mencoba cara-cara merawat tanaman.
4) Anak mengamati cara mengolah tanaman menjadi berbagai bentuk yang bermanfaat.
b. Konsep yang Dikembangkan
Melalui pembahasan tema tanaman, anak akan belajar :
1) Tanaman dapat tumbuh dengan berbagai ukuran.
2) Tanaman membutuhkan air, tanah dan pupuk untuk tumbuh dengan baik.
3) Setiap tanaman mempunyai bagian-bagian yang mempunyai fungsi yang berbeda.
4) Ukuran daun berbeda antara tanaman satu dengan lainnya.
5) Tanaman dapat diolah menjadi makanan, obat dan hiasan.


3. Memilih indikator dari kompetensi dasar bidang pengembangan yang sesuai
Tahap ketiga dalam pengembangan silabus adalah memilih indikator dari kompetensi dasar bidang pengembangan tertentu. Jika indikator, hasil belajar dan kompetensi dasar telah diorganisasikan pemetaannya dalam program semester maka pada masing-masing tema sudah diketahui bidang pengembangan (termasuk SP, PD dan Indikator) mana saja yang diprogram atau terkait pada tema tersebut. Pengorganisasi struktur kompetensi dapat disusun dalam bentuk matriks seperti matriks yang telah dikenal dalam GBPKB TK 1994. Perlu menjadi perhatian bahwa matriks program semester tidak dimaksudkan untuk membatasi ruang perencanaan pembelajaran tetapi justru lebih memudahkan guru untuk memilih indikator bidang pengembangan mana saja yang akan dijadikan kegiatan pembelajaran pada suatu tema. Penetapan suatu indikator dalam suatu tema didasarkan atas berbagai pertimbangan seperti pengalaman dalam melaksanakan KBM, perhatian dan aktivitas permainan yang biasa dilaksanakan anak, kebermaknaan tema tersebut untuk mencapai suatu indikator tertentu. Dengan demikian, pemilihan indikator dalam pengembangan silabus tidak asal mencomot berdasarkan pertimbangan sesaat tanpa penelaahan urgensinya dalam suatu tema. Matriks pada dasarnya merupakan pengorganisasian Pengembangan Dasar, Standar Perkembangan dan indikator berdasarkan urutan dan cara anak mencapai atau menguasainya ditinjau dari perkembangan anak secara normatif. Pengorganisasian tersebut sekaligus memperlihatkan struktur kompetensi mana saja yang berurut (bergradasi) dan berulang untuk mencapainya sesuai kepentingan dan kebermaknaanya dalam sebuah tema. Dengan demikian, matriks akan menunjukkan hubungan antara struktur kompetensi dengan tema dan jaringannya. Walaupun tidak menjadi keharusan, sebuah matriks akan sangat membantu guru untuk menata struktur kompetensi dalam suatu tema dan jaringannya sehingga dapat dipetakan dengan lebih mudah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan ditetapkan meliputi:
1) Tema kegiatan
2) Kelompok yang akan melakukan kegiatan bermain
3) Semester dan tahun ajaran
4) Jumlah waktu
5) Hari dan tanggal pelaksanaan
6) Jam pelaksanaan
7) Tujuan kegiatan bermain
8) Materi yang akan dimainkan sesuai dengan tema
9) Bentuk kegiatan bermain
10) Setting lingkungan
11) Bahan dan alat yang diperlukan dalam bermain
12) Evaluasi perkembangan anak.

B. Ilustrasi Penyusunan Silabus
Dengan memperhatikan langkah-langkah di atas, guru dapat menyusun, memodifikasi dan mengembangkan silabus dari tema yang dikehendaki. Format sebuah silabus jangan dibuat permanen tetapi sebaiknya dapat diatur dan dimodifikasi secara luwes. KTSP tidak mengendaki lagi adanya format standar yang harus seragam dari Sabang sampai Merauke seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya sehingga kurang memberikan ruang gerak kreativitas guru, terutama dalam mengembangkan rencana pembelajaran. Berikut disampaikan beberapa contoh format dan cara mengisi silabus untuk pembelajaran anak usia dini.

3. Perencanaan Kegiatan Harian (RKH).
Komponen-komponen yang harus ada dalam Rencana Kegiatan Harian yaitu :
1. Identitas kelompok belajar.
Identitas kelompok belajar yang dimaksud yaitu , meliputi: satuan pendidikan, nama kelompok, semester, aspek perkembangan, tema, jumlah pertemuan.
2. Standar Perkembangan.
Standar perkembangan merupakan kualifikasi minimal peserta didik yang menggambarkan ketercapaian perkembangan disetiap aspek.
3. Perkembangan dasar.
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
4. Indikator pencapaian kompetensi.
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. Tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. Materi.
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
7. Alokasi waktu.
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. Metode pembelajaran.
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik sert karakter dari setiap indicator dan kompetensi yang akan dicapai.
9. Kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran di kelompok bermain harus menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang memberikan kesempatan pada anak didik untuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang berguna dan diperlukan dalam hidupnya. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru akan berperan sebagai Sebagai disainer, guru bertugas merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan berbagai keunggulan model, metode, materi, media dan sumber belajar dari berbagai lingkungan yang memungkinkan anak didik belajar secara mandiri. Sebagai motivator, guru bertugas untuk membangun kemauan, minat dan perhatian anak didik tentang berbagai objek atau peristiwa yang dipelajari. Tugas guru sebagai fasilitator adalah menciptakan suasana lingkungan (didalam dan diluar kelas) yang memberikan kemudahan dan kelancaran bagi anak didik untuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Falsafah dan pengertian tersebut perlu dan harus menjadi rujukan bagi guru dalam memilih salah satu model pembelajaran konstruktivisme, baik dalam membuat perencanaan maupun pelaksaan pembelajaran.
Tahapan kegiatan pembelajaran di kelompok bermain pada umumnya terdiri dari tiga tahapan yaitu pendahuluan, inti dan penutup. Dalam pelaksanaanya, tahapan pembelajaran sangat tergantung dari model pembelajaran apa yang menjadi dasar pelaksanaan pembelajaran di kelompok bermain tersebut. Tahapan kegiatan konvensional terdiri dari 3 tahap, yaitu :
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
10. Penilaian hasil belajar.
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom¬petensi.
Adapun contoh format RKH (terurai) dapat disusun sebagai berikut :

SATUAN ACARA PERMAINAN

KELOMPOK : A /
SEMESTER : I / II
TEMA : Tanaman
SUB TEMA : Bagian-bagian tanaman
HARI/TANGGAL : Senin-Selasa, 2-3 Februari 2009

A. Kompetensi Dasar
1. Moral /Agama (PD-1/I-7 Mengucapkan lafaz Allahu Akbar)
2. Sosial Emosional (PD-2/I-5 Menunjukkan kerjasama menanam tanaman)
3. Bahasa (PD-2/I-6 Memberikan keterangan tentang keadaan tanaman)
4. Kognitif Sains (PD-1/I-4 Mencoba proses penyerapan air oleh tanaman)
5. Fisik/Motorik Halus (PD-2/I-5 Membuat sesuatu bentuk dengan menggunakan bagian tanaman yang tidak terpakai)
6. Fisik/Motorik Kasar (PD-1/I-4 Menirukan gerakan mencangkul)
7. Seni/Musik (PD-2/I-3 Menyanyi “menanam jagung”)

B. Metode
1. Story Telling (menyampaikan cerita)
2. Praktik langsung
3. Bernyanyi
4. Eksperimen
5. Resitasi

C. Media dan Sumber Belajar
1. Lingkungan sekitar
2. Gambar proses pertumbuhan
3. Alat-alat menanam
4. Air dan tanah

D. Langkah Pembelajaran
1. Pembukaan
Story Telling pengetahuan dan pengalaman anak tentang tanaman (bisa dilakukan dalam circle time)
2. Observasi
Praktek langsung mengamati dan menanam tanaman.
Eksperimen tanaman menghisap air.
3. Asosiasi
Tanya jawab menghubungkan tanaman dengan bagian lainnya (buah, bibit, penjual, pengolah/pengrajin, pabrik, makanan, kendaraan, pasar, toko, mall, supermarket)
4. Ekspresi
Resitasi membuat cincau dan minyak sayur.
Bernyanyi dan menari menanam jagung.
5. Penutup
Tanya jawab menyimpulkan kegiatan yang sudah dilakukan.

E. Penilaian
1. Porto folio
2. Observasi
No Indikator Kriteria/Nama Anak Ket
CB BK BM
1.

2.

3.

4.


Jakarta, 14 Februari 2009
Guru Kelas
(…………………………)
B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ALTERNATIF.
Seperti yang telah dibahas di atas bahwa setiap model memiliki prosedur dan tahapan pembelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berikut adalah beberapa contoh prosedur dan tahapan dalam model pembelajaran.
1. Model Pembelajaran Montessori.
Langkah-langkah jalan pengajaran yang dipakai untuk memasukan bahan pengajaran dalam jiwa anak selalu sama, yaitu 3 langkah sebagai berikut :
a. Langkah memberi asosiasi atau menunjukan,
b. Langkah mengenal,
c. Langkah mengingat.
Berikut diberikan sebuah contoh dalam melatih warna dengan langkah langkah tersebut.
1) Langkah menunjukkan.
Guru sambil memperhatikan kertas merah, mengatakan : “ini merah!” Begitu pula warna lain : putih, hijau, kuning, dan sebagainya.
2) Langkah mengenal.
Guru mengacaukan kertas–kertas berwarna itu dan kemudian berkata:”Ambilah merah!”.
3) Langkah Mengingat.
Dari kertas-kertas berwarna yang dikacaukan tadi guru mengambil sehelai dan bertanya : “Ini warna apa?”.

2. Model Pembelajaran Proyek.
Hal utama yang menjadi perhatian dari model pembelajaran proyek adalah pusat minat anak. Di bawah ini adalah dasar penentuan minat anak :
Adanya ketertarikan anak pada tema atau pokok masalah yang ditentukan.
Tema atau pokok masalah hendaknya didasarkan pada perkembangan anak.
Tema atau pokok masalah hendaknya ditentukan berdasarkan keadaan lingkungan yang di sekitar anak.
Tema atau pokok masalah ditetapkan berdasarkan isi dari masing-masing bidang pengembangan.
Adapun tahapan kegiatan pembelajaran di model proyek yaitu :
Langkah Persiapan
Pendahuluan
Perjalanan Sekolah atau Survey
Pengolahan Masalah
Pameran








SATUAN KEGIATAN HARIAN (PENGAJARAN PROYEK)
Hari/Tanggal : Senin-Selasa/4-5 Juli 2009
Tema/Sub Tema : Tanaman/Bagian-tanaman (3 Minggu)
Kelompok :
Semester/Minggu : I/ke-1

SENTRA/AREA PENGEMBANGAN Kompetensi Metode Media & Sumber Kegiatan Pembelajaran Penilaian perkembangan
A. Persiapan
Mengelompokan anak
Menyiapkan
bahan

Bahasa SP-1/PD-2/I-1
(…………)

SP-2/PD-3/I-1
(………….) Tanya Jawab Gambar Tanaman
Gambar Keajaiban Tanaman B. Pendahuluan
Percakapan pagi :
Bagian-bagian tanaman dan fungsinya Tes Lisan

Sains C . Observasi
Mengamati bagian tanaman


Sains

Seni D. Pengolahan Masalah
Menyebutkan bagian-bagian tanaman.
PT/PL Membuat hiasan dari daun kering

Seni Resitasi Bentuk Daun kering E. Pameran
Anak mendisplay hasil karya
Produk :……..
D. Penutup
Bernyanyi & mengucapkan syair “Kebunku”


3. Model Pembelajaran Sentra.
Beberapa hal yang menjadi ciri khas pembelajaan sentra yaitu classroom managementnya. Ruang kelas dalam model ini merupakan sebuah ruangan yang luas yang terdiri beberapa sentra sebagai tempat kegiatan anak. Penamaan sentra disesuaikan dengan konsep yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tersebut.
Untuk anak didik, setiap anak akan memperoleh tugas dan penjelasan secara garis besar dalam bentuk pengajaran klasikal tentang bahan pengajaran pada suatu sentra/area bidang pengembangan. Masing-masing anak dapat memilih sentra/area yang akan diikuti terlebih dahulu.






SATUAN KEGIATAN HARIAN (PEMBELAJARAN SENTRA/AREA)
Hari/Tanggal : Senin-Selasa/4-5 Juli 2009
Tema/Sub Tema : Tanaman/Bagian-tanaman (3 Minggu)
Kelompok :
Semester/Minggu : I/ke-1

SENTRA PENGEMBANGAN Kompetensi Metode Media & Sumber Kegiatan Pembelajaran Penilaian perkembangan
A. Pembukaan
Moral Agama SP 2/PD 2/I-1
(…………)

SP-2/PD-3/I-1
(………….) Tanya Jawab Gambar Tanaman
Gambar Keajaiban Tanaman Percakapan pagi : Tuhan memberikan kemampuan pada manusia untuk membuat sesuatu. Tes Lisan
B. Inti
AREA Seni (Art)



PT membuat lipatan bunga

PT membuat asesoris dari daun kering

AREA Kognitif (Math) Resitasi Bentuk Daun kering PT/PL membilang jumlah daun Proses :……..
AREA Kognitif (Sains) PT/PL Mengelompokan daun berdasar bentuk dan ukuran
C. Istirahat
Sosial-Emosi

D. Penutup
Seni (Musik) Bernyanyi & mengucapkan syair “Kebunku”


4. Model Pembelajaran Spielformen
Langkah-langkah penyusunan perencanaan dalam model pembelajaran spielformen :
Perhatikan komposisi Indikator dalam Silabus.
Tentukan fokus Indikator yang dapat dikembangkan dengan spielformen (terutama pada bidang Seni (Art).
Rancanglah bentuk permainan spielformen pada indikator tersebut sebagai kegiatan inti (utama).
Buatlah bentuk permainan pada masing-masing kemampuan lainnya dengan titik tolak pada permainan pokok.
Susunlah hasil spielformen anak dalam tempat pemajangan hasil karya anak.






Contoh-Contoh Rencana Pembelajaran Konstruktivisme

SATUAN KEGIATAN HARIAN (PEMBELAJARAN SPIELFORMEN)

Hari/Tanggal : Senin-Selasa/2-3 Februari 2009
Tema/Sub Tema : Tanaman/Bagian-tanaman (3 Minggu)
Kelompok :
Semester/Minggu : I/ke-1

Bidang Pengembangan Standar
Kompetensi Metode Teknik Media & Sumber Kegiatan Pembelajaran Penilaian perkembangan
A. Pembukaan
Moral Agama SP 1/PD 2/I-1
(…………)

SP-2/PD-3/I-1
(………….) Tanya Jawab - membuka pelajaran
- berempati
- penguatan
- bertanya Gambar Tanaman
Gambar Keajaiban Tanaman Percakapan pagi : Allah SWT. memberikan kemampuan pada manusia untuk membuat sesuatu. Tes Lisan :
0 (Bony, Efi)
V
0 (Devi)
Bahasa KD/HB-1/I-3
(Menyebutkan kata-kata yang mempunyai suku kata awal yang sama) Bercerita



Tanya jawab - variasi
- ekspresi
Gambar Tanaman dan bagiannya


Kartu Suku kata Bercerita tentang keindahan bunga

Lisan/Perbuatan
Kinerja (Performansi)
0 ( Aisyah, bony )
V
0 ( )
B. Inti
Seni (Art)



(Spielformen) - eksplorasi
sumber bel
- membimb diskusi
- klasikal
- individu
PT membuat lipatan bunga

PT membuat asesoris dari daun kering
Portofolio :
Produk (Hasil)
0 ( Ety, Sri )
V
0 ( Titin, Nenen)
Kognitif (Math) Resitasi Bentuk Daun kering PT/PL membilang jumlah daun Tes Perbuatan :
Proses & produk
Kognitif (Sains) PT/PL Mengelompokan daun berdasar bentuk dan ukuran
C. Istirahat
Sosial-Emosi
D. Penutup
Seni (Musik) Bernyanyi & mengucapkan syair “Kebunku”

5. Model Pembelajaran Alam.
Salah satu yang membedakan model pembelajaran ini dangan yang lain yaitu tertelak pada tahapan pembelajarannya. Model pembelajaran alam terdiri dari 5 tahapan yaitu :
a. Penentuan minat anak.
b. Melakukan perjalanan sekolah.
c. Pembahasan hasil pengamatan.
d. Menceritakan lingkungan yang diamati.
e. Kegiatan ekspresi.

SATUAN KEGIATAN HARIAN (PENGAJARAN ALAM)
Hari/Tanggal : Senin-Selasa/4-5 Juli 2009
Tema/Sub Tema : Tanaman/Bagian-tanaman (3 Minggu)
Kelompok :
Semester/Minggu : I/ke-1

SENTRA/AREA PENGEMBANGAN Kompetensi Metode Media & Sumber Kegiatan Pembelajaran Penilaian perkembangan
Persiapan
Menyiapkan
Peralatan
Pembelajaran.
Bahasa SP-1/PD-2/I-1
(…………)

SP-2/PD-3/I-1
(………….) Tanya Jawab Gambar Tanaman
Gambar Keajaiban Tanaman A. Penentuan minat anak.
Percakapan pagi :
Bagian-bagian tanaman dan fungsinya Tes Lisan

Bahasa
B . Melakukan perjalanan sekolah.
Mengamati bagian tanaman di kebun sekolah.

Sains


Sosial





Seni


C. Pembahasan hasil pengamatan.
Diskusi tentang bagian-bagian tanaman.
D. Menceritakan lingkungan yang diamati.
Menceritakan perjalanan ke kebun sekolah.

PT/PL Membuat hiasan dari daun kering.

Seni Resitasi Bentuk Daun kering E. Kegiatan Ekspresi
Anak mendisplay hasil karya
Produk :……..
D. Penutup
Bernyanyi & mengucapkan syair “Kebunku”

6. Model Pembelajaran Simbiotis
Model pengajaran simbiotis ini memberikan kesempatan anak untuk belajar dan bekerja, baik secara individu maupun kelompok. Dalam model pembelajaran ini ada tiga tahapan pembelajaran yang terdiri dari :
a. Observasi.
b. Asosiasi.
c. Ekspresi.



SATUAN KEGIATAN HARIAN (PENGAJARAN SIMBIOTIS)
Hari/Tanggal : Senin-Selasa/4-5 Juli 2009
Tema/Sub Tema : Tanaman/Bagian-tanaman (3 Minggu)
Kelompok :
Semester/Minggu : I/ke-1

SENTRA/AREA PENGEMBANGAN Kompetensi Metode Media & Sumber Kegiatan Pembelajaran Penilaian perkembangan
Persiapan
Menyiapkan
Peralatan
Pembelajaran.
Bahasa SP-1/PD-2/I-1
(…………)

SP-2/PD-3/I-1
(………….) Tanya Jawab Gambar Tanaman
Gambar Keajaiban Tanaman Pendahuluan
Percakapan pagi :
Bagian-bagian tanaman dan fungsinya Tes Lisan

Bahasa
A. Observasi
Mengamati bagian tanaman di kebun sekolah.

Sains



Seni


B. Asosiasi
Diskusi tentang bagian-bagian tanaman.

C. Ekspresi.
PT/PL Membuat hiasan dari daun kering.
Penutup
Bernyanyi & mengucapkan syair “Kebunku”

7. Pendekatan BCCT.
Pendekatan Beyond Circle Centre Time (BCCT) sangat memperhatikan tahapan bermain anak. Oleh karena itu, jenis kegiatan main harus sesuai dengan perkembangan anak sehingga anak senang dan mau mematuhi peraturan yang diberikan. Tahapan kegiatan dalam pendekatan BCCT terdiri dari :
a. Main pembukaan.
Setelah waktu yang ditentukan tiba, anak diajak dalam lingkaran, untuk menyanyikan lagu anak-anak dan berdoa pembukaan lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan antara lain dapat bernyanyi bersama, mendongeng, berdiskusi dan lain-lain.
b. Kegiatan inti di masing-masing sentra yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :
- Pijakan pengalaman sebelum bermain.
a. Pendidik dan anak duduk melingkar. Pendidik memberi salam dan menanyakan kabar anak-anak.
b. Pendidik meminta anak-anak untuk memperhatikan siapa saja yang hadir hari ini (mengabsen).
c. Berdoa bersama.
d. Pendidik menyampaikan tema hari ini dan dikaitkan dengan kehidupan anak.
e. Pendidik bercerita yang terkait dengan tema dan alat mainan yang disediakan.
f. Pendidik menyampaikan bagaimana aturan main, memilih teman main, memilih mainan, cara menggunakan alat mainan, kapan memulai dan mengakhiri bermain dan cara merapikan kembali alat mainan yang sudah dimainkan.
g. Mempersilahkan anak untuk mulai bermain.

- Pijakan pengalaman saat bermain.
a) Berkeliling untuk memberi pijakan selama main kepada anak
b) Memberikan waktu kepada anak untuk mengelola dan memperluas pengalaman main
c) Memberi pijakan pada anak dengan bertanya
d) Mencontohkan komunikasi yang tepat
e) Memperkuat dan memperluas bahasa anak
f) Meningkatkan kesempatan sosialisasi melalui dukungan pada hubungan teman sebaya
g) Mengamati dan mendokumentasikan perkembangan dan kemajuan anak.

- Pijakan pengalaman setelah bermain.
Anak-anak di masing-masing sentra dikumpulkan kembali menjadi satu lingkaran. Pendidik menanyakan pada setiap anak tentang kegiatan main yang tadi dilakukan.




Pentingnya perencanaan sebagai bagian dari proses pembelajaran mengharuskan pendidik memiliki pengetahuan dan juga keterampilan dalam menyusun dan mengembangkan perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan acuan yang berlaku. Selain itu, pendidik juga harus memperkaya pengetahuannya tentang berbagai macam penyusunan perencanaan pembelajaran dengan berbagai pendekatan, seperti pendekatan model pembelajaran.
Panduan perencanaan pembelajaran ini disusun untuk memenuhi kebutuhan para pendidik dalam membuat perencanaan pembelajaran sebagai tuntutan profesionalitas para pendidik. Dalam pelaksanaannya, panduan ini memberikan beberapa referensi dan bersifat fleksibel sesuai dengan kebutuhan. Untuk pengembangan perencanaan pembelajaran selanjutnya diserahkan pada pihak penyelenggara kelompok bermain.





Format contoh silabus 1 Tematis :
PENYUSUNAN SILABUS
Tema : Plants (Kangkung & Jahe)
Alokasi waktu : 4 Minggu
Kelompok : B
Bulan/Minggu ke- : Desember 08

KOMPONEN BAHASA MATEMATIKA AL - ISLAM SAINS. SENI SOSIAL STUDI
Tujuan  Meyakini keberadaan Allah SWT yang menciptakan Tanaman.
 Membaca dan memaknai ayat Al-Qur-an ttg tanaman.
  Melafalkan dengan benar wacana tentang “akibat tanaman ditebang

 Memberikan jawaban atau komentar tentang wacana yang dibaca

 Membuat beberapa pertanyaan dan jawaban sebab akibat tenaman di tebang

 Anak dapat mem-buat laporan seder-hana tentang proses pertumbuhan beberapa tanaman.
 Anak dapat menyu-sun deskripsi fungsi bagian-bagian tanaman.
 Anak dapat mencoba cara-cara merawat tanaman.
 Anak mengamati cara mengolah tanaman menjadi berbagai bentuk yang bermanfaat

Konsep  Allah SWT. Maha pencipta dalam menciptakan berbagai ragam jenis tanaman

 Semua jenis tanaman yang diciptakan Allah tidak sia-sia, sekalipun rumput.
 Mensyukuri tanaman berbagai jenis yang bermanfaat  Membuat dafta kosa kata tanaman
 Membuat puisi tentang Bunga  Tanaman dapat tumbuh dengan berbagai ukuran.
 Tanaman membutuhkan air, tanah dan pupuk untuk tumbuh dengan baik.
 Setiap tanaman mempunyai bagian-bagian yang mempunyai fungsi yang berbeda.
 Ukuran daun berbeda antara tanaman satu dengan lainnya.
 Tanaman dapat diolah menjadi makanan, obat dan hiasan.

Kompetensi PD2/I 1 (I-2 …………..)
PD3/HB2 (I-4 …………..)
KD4/HB1 (I-3 …………..)
KD1/HB1 (I-3 …………..)
KD2/HB2 (I-2 …………..)
KD4/HB2 (I-3 …………..)
KD2/HB2 (I-2 …………..)
KD3/HB1 (I-4 …………..)
KD4/HB2 (I-3 …………..)

Metode Pembelajaran Pilih salah satu model konstruktivisme Pilih salah satu model konstruktivisme Pilih salah satu model konstruktivisme
Media & Sumber Belajar 1. Tanya Jawab
2. Observasi
3. Resitasi Ayat Al-Qur’an
4. Diskusi 1. Tanya Jawab
2. Resitasi
3. Bermain peran
4. Simulasi 1. Tanya Jawab
2. Observasi
3. Eksperimen
4. Resitasi

KOSA KATA Al-Qur’an
Buku paket Buku teks Akar, biji-bijian, tanaman (bakal, muda dan dewasa), pupuk, tanah, air
Hari
Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at


Daftar Pustaka :

Charles Wolfgang, and Mary E. wolfgang. School for Young Children : Developmentally Appropriate Practices. (Needham Heights, Florida Universsity : Allyn and Bacon, 1992).
Carrol Cattron, and Jan Allen. Early Childhood Curriculum, Second Edition. (New Jersey : Merril an Imprint of Pretice Hall, 1993).
Celia Anita Decker, and John R. Decker. Planning and Administering Early Childhood Education Programs, fifth edition. (New york : merril an George Imprint of Macmillan Publishing Company, 1992).
Hapidin. Model-Model Pendidikan Untuk Anak Usia Dini. (Jakarta : Ghiyats Alfiani Press -2000).
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)

Jumat, 22 Oktober 2010

Strategi Pembelajaran Kita

STRATEGI PEMBELAJARAN KITA
(KREATIF, INOVATIF & ATRAKTIF)*
(* disampaikan dalam Lokakarya Guru TK Pembina Tingkat Provinsi)
Oleh : Drs. Hapidin M.Pd.

A. Latar Belakang

Penguasaan strategi Pembelajaran merupakan salah satu ciri utama kompetensi professional bidang keguruan. Melalui penguasaan strategi pembelajaran, seorang guru akan menunjukkan dua aspek sekaligus, yakni penguasaan aspek konseptual yang membentuk kerangka berpikir (mind set) guru dan penguasaan aspek praktik yang membentuk tindakan mendidik (educating action). Pada penguasaan aspek konseptual, seorang guru harus menguasai aspek-aspek yang berkaitan dengan konsep perkembangan anak, konsep kurikulum, konsep model pembelajaran dan konsep metodologi pembelajaran. Adapun aspek praktik diantaranya mencakup penguasaan teknik pembelajaran, melakukan asesmen perkembangan anak, mengembangkan bahan ajar menggunakan media/sumber belajar dan menata lingkungan pembelajaran.
Pentingnya penguasaan komponen strategi pembelajaran tersebut akan memberikan dampak langsung dalam membantu anak didik belajar secara aktif, asyik dan menyenangkan serta mencapai hasil belajar yang optimal. Namun demikian, pada pelaksanaan di lapangan banyak sekali kendala dan permasalahan ditemukan, terutama berkaitan dengan bagaimana menciptakan strategi pembelajaran yang memungkinkan anak didik belajar dengan tenang, nyaman, asyik dan menyenangkan. Banyak guru yang menciptakan kegiatan belajar mengajar ”BPPT-LKS” atau ”Buku Paket-Papan Tulis-LKS” yang menjadikan situasi monoton, anak aktif tertekan dan jenuh. Guru lebih banyak mengejar target kurikulum (dalam arti sempit standar isi pendidikan) dibandingkan dengan proses belajar anak itu sendiri. Hal ini juga dipicu oleh kebijakan pemerintah yang lebih banyak menitik beratkan pencapaian hasil belajar (terutama pada hasil kenaikan kelas atau ujian akhir nasional). Kebijakan tersebut pada dasarnya cukup bertentangan dengan konsep KBK (kurikulum 2004) dan KTSP (kurikulum 2006) yang menitik beratkan kegiatan pendidikan pada pencapaian proses dan hasil belajar anak didik secara seimbang. Pada sisi lain, kegiatan belajar mengajar (baik di TK maupun SD) lebih banyak didominasi guru sebagai pengajar dibandingkan dengan aktivitas murid sebagai pembelajar. Hal ini ironis mengingat CBSA atau Children centre atau acitve learning telah diperkenalkan sejak kurikulum 1984 dan secara konsisten diteruskan pada kurikulum 1994, 2004 dan 2006.
Disamping itu, masih banyak TK dan SD yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang lebih banyak mengarahkan anak hanya sekedar tahu atau mepunyai pengetahuan (learning how to know). Kondisi ini berdampak pada ketidak pahaman anak tentang ”untuk apa saya belajar ini dan bagaimana saya menggunakan pelajaran ini?”. Sebagai contoh, kita yang sudah belajar 12 tahun masih belum mengerti untuk apa dan dimana ”rumus phytaghoras” itu dipergunakan, dimana saya menemukan gelombang magnet, ciri-ciri makhluk hidup, tumbuhan monokotil dan dikotil, gotong royong dan sebagainya.
Berbagai fakta dan permasalahan tersebut menjadi tantangan kita sebagai guru dan guru telah diakui sebagai suatu profesi. Sebagai suatu profesi, segala tindakan guru dalam mendidik atau membelajarkan anak didik harus didasarkan konsep pendidikan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini menunjukkan bahwa praktik mengajar guru benar-benar memiliki dasar-dasar pedagogis atau sering disebut sebagai praksis, yakni praktik mendidik atau membelajarkan anak yang didasarkan pada bangunan konsep pendidikan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Kalau kita mengajarkan membaca ”Ba ju – Baju” atau ”9 ditambah 5, 9 simpan di kepala lalu tambah 5” tidak tahu sama sekali apa dasarnya dan kita melihat tindakan yang sama dilakukan sama si Mbok mengajarkan anak majikannya yang juga tidak tahu dasarnya lantas ”apa bedanya kita dengan si Mbok tersebut”.
Untuk mengembalikan citra guru sebagai seorang profesional, salah satu hal menjadi dasar dan pertaruhan kita adalah ”menguasai strategi pembelajaran” sampai ke akar-akarnya sehingga kita dapat menemukan suatu strategi pembelajaran yang paling sesuai, paling cocok atau paling tepat dengan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice Instruction disingkat DAPI). Persoalan selanjutnya adalah bagaimana kita dapat menciptakan strategi pembelajaran yang DAPI ? Mari kita coba menelusuri strategi pembelajaran seperti dengan mengistilahkan strategi pembelajaran KITA (Kreatif, Inovatif dan Atraktif). Ini merupakan rumusan pembelajaran yang membangun kreativitas anak, memberi kesempatan anak berinovasi dan membuat anak atraktif (menyenangkan).

B. Prasyarat Utama : Strategi Pembelajaran KITA
Prasyarat utama dalam menguasai strategi pembelajaran adalah melakukan penelaahan diri (self instrospection) dengan mengajukan pertanyaan :
1) Apakah saya memahami perkembangan anak pada rentang usia anak didik yang saya ajar ?
2) Apakah saya sudah menggunakan konsep perkembangan anak dalam kegiatan belajar mengajar ?
3) Apakah saya sudah memahami secara benar kurikulum yang menjadi acuan di tempat saya mengajar (termasuk kurikulum yang berlaku secara nasional) ?
4) Apakah saya sudah melakukan analisis gradasi (susunan) kompetensi dasar pada setiap bidang pengembangan atau bidang studi yang akan dicapai dan dikuasai anak didik ?
5) Apakah saya sudah memahami pendekatan, metode dan prinsip kegiatan pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum (KBK’2004 atau KTSP’06) ?
6) Apakah saya sudah menguasai teknik penilaian proses dan hasil pembelajaran sebagaimana disarankan dalam kurikulum ?
7) Apakah saya mengenal dan memahami model-model pendidikan (pembelajaran) apa saja yang dapat dipergunakan pada lembaga pendidikan tempat saya bertugas ? (sebagai contoh : ada TK/SD dengan model sekolah alam, TK/SD model Proyek dan TK/SD model Sentra).
8) Apakah saya menguasai dan dapat mempraktikan dengan benar ragam pendekatan dan metode pembelajaran sesuai dengan tingkat pendidikan dimana saya bertugas ?
9) Apakah sebelum memulai awal tahun pelajaran, saya melakukan asesmen terhadap pengetahuan dan kemampuan awal anak sehingga saya memperoleh gambaran kemampuan awal setiap anak terhadap standar kompetensi yang diharapkan ?
10) Apakah saya telah menggunakan ragam teknik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak secara individual, kelompok maupun klasikal ?
11) Apakah saya telah berusaha menyusun dan mengembangkan bahan ajar sendiri secara terpadu dan kontekstual ?
12) Apakah saya telah menggunakan media dan sumber belajar yang sesuai dan tepat dengan kebutuhan anak didik dan pencapaian kompetensinya ?
13) Apakah saya telah menata dan menciptakan lingkungan pembelajaran (baik indoor space maupun outdoor space) yang membuat anak nyaman, kerasan, aktif dan menyenangkan ?


C. Strategi Pembelajaran KITA, dari Mana Mulainya ?
Jika prasyarat utama di atas sebagian besar sudah kita penuhi, kita dapat memulai strategi pembelajaran KITA. Sebagai alternatif memulai strategi pembelajaran KITA dapat dipelajari tips berikut ini :
1. Mulailah di awal tahun pelajaran (atau awal pelajaran) dengan melakukan asesmen perkembangan atau kebutuhan anak.
Asesmen merupakan tahap paling awal untuk memulai strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak didik (DAPI). Memulai dengan asesmen berarti memulai dengan apa yang dimiliki oleh anak didik bukan apa yang dikuasai guru. Strategi pembelajaran yang DAPI adalah strategi pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan anak secara individual walaupun dalam pelaksanaanya anak didik dapat dikelompokan sesuai dengan hasil asesmen (misalnya kelompok anak didik si Cepat, si Sedang dan si Lambat atau dengan simbol si Mekar, Kuncup dan si Putik). Hasil asesmen ini sekaligus akan menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun satuan kegiatan pembelajaran yang diharapkan dapat menciptakan program dan proses pembelajaran yang berdiferensiasi (berbeda) sesuai dengan keberbedaan anak atau kelompok anak.
2. Periksalah silabus pembelajaran dan rencana pembelajaran KITA.
Silabus dan rencana pembelajaran merupakan refleksi atau perwujudan dari keunggulan guru dalam menguasai strategi pembelajaran. Silabus sebagai rangkuman rencana pembelajaran yang menyeluruh hendaknya dibangun dari suatu konteks atau tema kehidupan yang nyata sehingga terjadi pembelajaran yang sesuai dengan konteks (Contextual Learning) yang memungkinkan anak dapat memahami proses pembelajaran dari kehidupan nyata dan bermakna. Silabus pembelajaran dengan menggunakan tema akan mengarahkan kita pada membuat rencana besar memadukan setiap bidang pengembangan atau mata pelajaran menjadi satu kesatuan yang utuh (terpadu). Tindakan ini sejalah dengan semangat kegiatan belajar mengajar yang menggunakan KBK maupun KTSP, terutama pada pendekatan jaringan pengetahuan dan pendekatan kontekstual. Semangat pembelajaran terpadu ini akan sangat berguna bagi anak didik untuk melihat dan memahami hubungan antar mata pelajaran dalam konteks kehidupan yang nyata. Pada komponen silabus pembelajaran pertimbangkan adanya komponen konsep, baik untuk situasi pembelajaran TK maupun SD seperti konsep Bahasa (Bahasa Indonesia, konsep Agama, konsep Sains (TK : Kognitif Sains), konsep IPS (TK : konsep Sosial Emosi), konsep Matematika (kognitif Matematika) dan konsep Seni. Konsep yang dimaksud adalah rumusan tentang pengetahuan, kemampuan, keterampilan atau pengalaman yang diharapkan akan dicari dan ditemukan anak selama proses belajar mengajar berlangsung. Sebagai contoh, dalam bahasa terdapat konsep menemukan kosa kata baru dan pengertiannya, anak menemukan kesimpulan dari suatu wacana ; dalam sains terdapat konsep tentang air dapat diperoleh dari berbagai sumber, air dapat berubah wujud menjadi padat dan gas, air dapat diolah dengan berbagai cara.
3. Siapkan dan tatalah suasana kelas (indoor space) dan lingkungan sekitar (outdoor space).
Guru dapat menata ruangan kelas dengan berbagai pola yang memungkinkan anak berinteraksi tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan teman-temannya dan sumber belajar lain yang relevan. Guru dapat mengatur posisi tempat duduk anak (lingkaran, setengah lingkaran, leter U, berkelompok atau berhadap-hadapan secara kelompok), mengatur posisi meja guru (jangan sampai monoton), rak buku atau display hasil karya anak. Demikian juga dengan penataan sumber belajar yang ada pada lingkungan sekitar, terutama yang terkait dengan tanaman, binatang, tanah, batu dan air. Penataan sarana lingkungan sebenarnya telah diatur contohnya dalam buku pedoman sarana pendidikan. Dalam pandangan guru profesional, tidak ada sejengkalpun ruangan yang tidak bisa dijadikan sarana pengembangan anak. Dari segi penataan lingkungan didalam kelas, setiap ruang akan dibuat kreatif, inovatif dan atraktif, mulai dari lantai kelas (apa yang mengundang anak belajar dari lantai kelas ?), dinding kelas (pembelajaran apakah yang tampak pada dinding kelas yang mengundang perhatian anak), rak buku, jendela, pintu dan langit-langit. Dari segi penataan lingkungan luar kelas juga akan dirancang kreatif. Inovatif dan atraktif, mulai dari pintu gerbang (bisakah pintu gerbang itu dibuat berbentuk ikan hiu, harimau atau ayam yang penting tidak menampakan diri seperti pintu penjara), jalan menuju kelas, tanaman hias dan apotik hidup, tempat hidup binatang, saluran air, tempat pembuangan sampah, papan pengumuman, ayunan, jungkitan, papan luncur dan terowongan.


4. Jika kelas memungkinkan lakukan circle time atau waktu duduk melingkar.
Kegiatan circle time diperlukan untuk membantu anak berinteraksi dengan cara tatap muka langsung. Proses ini akan menumbuhkan rasa percaya diri anak, mempelajari gerak gerik seseorang ketika berbicara serta mempelajari tentang berbagai proses dalam berkomunikasi secara langsung (seperti berpendapat, menyanggah, menyetujui). Dalam kegiatan ini, guru dapat menunjukkan sikap empati untuk menelaah hal-hal psikologis yang mungkin ditemui anak sepanjang bangun tidur sampai berangkat ke sekolah. Aspek psikologis yang negatif (misalnya dipukul, diancam, dicubit) akan berjadi hambatan ketika anak memasuki kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya.
5. Saat memasuki pembelajaran, dari wacana ke pengamatan (praktik langsung) atau dari pengamatan ke wacana.
Memasuki kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya dapat dilakukan guru dari sebuah wacana sebagai bahan ajar yang disusun dan dikembangkan sendiri. Wacana haruslah memperlihatkan keinginan terwujudnya jaringan pengetahuan antara mata pelajaran atau bidang pengembangan satu dengan bidang lainnya. Pemahaman tersebut mengarah pada perlunya mengembangkan suatu wacana yang dapat memadukan hubungan antar mata pelajaran atau bidang pengembangan sehingga menjadi satu kesatuan yang bermakna. Berdasarkan pembelajaran dari wacana, anak dapat dibantu untuk menemukan berbagai konsep yang diinginkan dalam silabus melalui berbagai kegiatan pengamatan atau memperagakan secara langsung.






D. Pendekatan yang disarankan dalam Kurikulum

K
omponen kurikulum merupakan panduan kurikulum yang harus dibaca dan dipahami guru sebagai bentuk kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan pada suatu lembaga. Pemahaman tentang pengaturan isi dan proses pembelajaran dalam kurikulum akan membantu menanamkan dan membangun kerangka berpikir guru dalam merumuskan dan mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan sasaran program yang akan dicapai. Sebagai contoh, dalam panduan KBM kurikulum 2004 dan KTSP dapat ditemukan beberapa alur pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seperti penggunaan pendekatan 4 pilar pendidikan, pendekatan inquiri, pendekatan konstruktivisme, pendekatan pembelajaran yang demokratis dan pendekatan jaringan pengetahuan. Pendekatan tersebut akan sangat berpengaruh pada pemahaman dan penguasaan strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Sebagai contoh, guru yang biasa memahami dan menggunakan konsep KBM yang menekankan bahwa pembelajaran itu hanya mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan nilai tertentu pada anak didik akan berbeda dengan guru yang memahami dan menggunakan pendekatan empat pilar pendidikan. Guru yang menggunakan strategi pembelajaran dengan empat pilar pendidikan akan merancang dan mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan anak sekedar mengetahui saja (learning how to know) tetapi dia akan mengembangkan strategi pembelajaran yang membelajarkan anak untuk melakukan atau menujukkan sesuatu (learning how to do), membelajarkan anak untuk membangun nilai-nilai dan sikap sendiri (learning how to be) dan membelajarkan anak untuk membangun keselarasan hidup dengan sesama (learning how to life together).
Pendekatan pembelajaran yang pertama diperkuat dengan pendekatan inquiri yang akan membantu murid tidak sekedar memperoleh hasil belajar yang optimal melainkan juga memperoleh berbagai keterampilan inquri yang dalam berbagai hal ditunjukkan oleh pengguasaan keterampilan proses. Keterampilan proses akan membantu murid agar proses pemerolehan berbagai konsep pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan nilai-nilai dilakukannya sendiri melalui sejumlah proses seperti mengamati, mencari, menemukan, mengklasifikasi, membedakan, mendiiskusikan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Penyediaan sejumlah proses belajar murid tersebut pada hakikatnya merupakan cara pandang yang terdapat dalam pendekatan konstruktivisme.
Pendekatan konstruktivisme menganut suatu pemikiran dan pemahaman bahwa kegiatan pendidikan atau pembelajaran merupakan usaha atau proses menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang memberikan kesempatan pada anak didik untuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang berguna dan diperlukan dalam hidupnya. Aliran ini meyakini bahwa setiap anak didik mempunyai kemauan dan kesanggupan dalam mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Tugas guru yang utama adalah sebagai disainer, motivator dan fasilitator. Sebagai disainer, guru bertugas merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan berbagai keunggulan model, metode, materi, media dan sumber belajar dari berbagai lingkungan yang memungkinkan anak didik belajar secara mandiri. Sebagai motivator, guru bertugas untuk membangun kemauan, minat dan perhatian anak didik tentang berbagai objek atau peristiwa yang dipelajari. Tugas guru sebagai fasilitator adalah menciptakan suasana lingkungan (didalam dan diluar kelas) yang memberikan kemudahan dan kelancaran bagi anak didik untuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Falsafah dan pengertian tersebut perlu dan harus menjadi rujukan bagi guru dalam memilih salah satu model pembelajaran konstruktivisme, baik dalam membuat perencanaan maupun pelaksaan pembelajaran.
Selain landasan kurikulum, perencanaan pembelajaran dapat ditelaah dan dikembangkan berdasarkan acuan model pembelajaran dan konsep teoritik tentang disain pembelajaran atau instructional design. Pada berbagai model pembelajaran biasanya dikemukakan rumusan langkah pembelajaran sesuai falsafah dan prinsip yang dianut model pembelajaran yang bersangkutan. Perencanaan pembelajaran yang mengacu pada model pembelajaran akan dikemukakan pada bab. tersendiri. Beberapa acuan model pembelajaran yang akan dibahas diantaranya model pengajaran barang sesungguhnya, model pembelajaran sentra, model pembelajaran proyek dan model pembelajaran simbiotis. Adapun acuan perencanaan pembelajaran sesuai dengan teori disain instruktional juga akan mengemukakan beberapa disain instruksional model Kemp, model Elly dan model Davis pada bab tersendiri.

Daftar Bacaan

Brewer, Jo Ann, Introduction to Early Childhood Education. Allyn and Bacon : 1992.
Bennet, William J. and Chester E. Finn Jr, John T.E. Cribb Jr. The Educated Child ; A Parent Guide from Preschool througt eight grade. New York : The Free Press, 1999.
Decker, Celia Anita and John R. Decker. Planning and Administering Early Childhood Education Programs, fifth edition. New york : merril an Imprint of Macmillan Publishing Company, 1992.
Hapidin, Pedoman Praktis, Perencanaan, Pengelolaan dan Evaluasi Pengajaran untuk Taman Kanak-kanak. Jakarta : Ghiyats Alfiani Press, 1997.
Hapidin, Model-Model Pendidikan Untuk Anak Usia Dini. Jakarta : Ghiyats Alfiani Press, 2000.
Hapidin, Managemen Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Pusdiani, 2001.
Hapidin, Strategi Pembelajaran : Acuan Konseptual dan Praksis. Bekasi : Pusdaini Press, 2005.
Wolfgang, Charles and Mary E. wolfgang. School for Young Children : Developmentally Appropriate Practices. Needham Heights, Florida Universsity : Allyn and Bacon, 1992.
Wortham, Sue Clark, Measurement and Evaluation in Early Childhood Education. New Jersey : Prentice Hall., Inc., 1995.